Sunday, May 18, 2014

Pahlawan Berkumis Tebal

Pahlawan Berkumis Tebal

Situbondo, 18 Mei 2014 22:20


Setelah membaca ini, saya yakin kamu langsung jatuh cinta pada Bapak saya.

Saat menulis ini, beliau sedang ada di belakang saya, membetulkan helm sehabis membantu saya membetulkan wi-fi di rumah.
Jika dibilang sosok Bapak adalah sosok tokoh idola, dulunya saya mengelak. Satu-satunya tokoh idola saya adalah Ibu atau biasa saya sebut Mama.
Memang, Nabi Muhammad saja mengatakan Ibu sebanyak tiga kali baru kemudian ayah, ketika ditanya siapa saja yang patut kita hormati.
Namun, sejak beberapa bulan ini saya baru menyadari, bahwa tokoh idola saya bertambah. Bapak.

Saya akui , saya bukan orang yang pandai bermanis-manis pada orang tua. Keluarga saya pun begitu. Kami sekeluarga tidak pandai mengekspresikan sayang antar satu sama lain. Namun, sekaku-kakunya saya, saya juga seorang anak perempuan biasa. Saya lebih dekat dengan Mama daripada Bapak. Dulu sekali, saya pernah akrab dengan Bapak. Sudah lama sekali. Bapak mencium pipi saya terakhir ketika saya naik kelas 4 SD. Mungkin Bapak menyadari putrinya sudah tumbuh dewasa.

Bapak saya adalah seorang yang keras. Bapak tak segan memarahi saya ketika nilai saya menurun. Bahkan melarang saya pergi meski saya sudah meminta izin dengan beribu alasan. Saya sempat membenci sifat keras Bapak. Bahkan parahnya, saya pernah menulis di buku harian, andai Bapak tidak ada, tentu saya akan bebas pergi kemana-mana. Begitu tulis saya dulu.
Jika saya boleh memutar waktu, saya tidak akan melawan Bapak dan menulis hal buruk tentang Bapak di buku harian saya dulu.
Seandainya saya tahu, begitu sayangnya Bapak pada saya, saya akan menghapus tulisan saya dulu dan menggantinya dengan “Saya sayang Bapak”.
Perasaan saya yang dulu ala kadarnya pada Bapak, setelah kejadian beberapa bulan lalu, berubah seratus persen. Saya tergila-gila pada Bapak. Saya merasakan keharuan luar biasa pada sosok Bapak. Air mata saya spontan mengalir ketika saya menuliskan bagian ini.

Bapak kecewa pada saya.

Bapak pernah memimpikan saya kuliah kedokteran atau paling tidak bukan sastra indonesia seperti apa yang saya pilih sekarang.
Bapak sangat berharap saya dapat membahagiakan keluarga seperti Kakak-kakak sepupu saya yang dibanggakan oleh Bude-bude saya ketika pertemuan keluarga.
Saya paham betapa kecewanya Bapak ketika saya memutuskan kuliah di jurusan yang saya sukai.

Yang membuat saya merasa bersalah pada Bapak dan memasukkan Bapak di dalam daftar idola saya, adalah, Bapak tidak pernah menunjukkan rasa kecewa Bapak di depan saya. Bahkan jika Mama tidak memberi tahu saya tentang hal ini beberapa bulan lalu, saya mungkin masih berpikir bahwa bapak adalah satu-satunya orang yang mendukung saya berada di pilihan saya saat ini. Bapak selalu membanggakan saya di depan teman-temannya yang sok memamerkan anaknya yang berkuliah di ITS , IPDN dan sebagainya. Entah, Bapak hanya ingin membuat saya tetap percaya diri atau bagaimana. Saya terlampau takut untuk mengira-ngira.

Air mata saya menetes lagi. Ah, Bapak.
Pahlawan berkumis saya.

Sejak saya kuliah dan tinggal jauh dari rumah, Bapak semakin perhatian pada saya. Dulu, Bapak yang selalu melarang saya. Sekarang, Bapak yang membebaskan saya dari segala larangan Mama. Bapak yang pendiam selalu memberikan hal-hal tak terduga pada hidup saya.

Suatu hari, saya merengek minta tablet keluaran terbaru. Susah sekali rasanya mendapatkan kepercayaan dari Mama untuk membelikannya. Di keluarga saya, selalu diajarkan untuk tidka mudah memperoleh sesuatu. Mendapatkan apapun, harus dengan kerja keras. Untuk mendapatkan Tablet itu, saya harus kerja keras. Saya berusaha untuk ikut lomba menulis dimana-mana. Tapi hasilnya nihil. Saya kembali merengek pada Mama dan Bapak. Mama tetap melarang. Saya merasa pupus sudah harapan saya untuk asik-asikan instagraman dengan tablet keluaran terbaru itu.

Esok harinya, rasanya saya ingin melompat gembira ketika Bapak mengirim pesan singkat berisi,

“Tabnya mau tipe apa?”

Kamu pasti iri dan ingin punya Bapak seperti Bapak saya.

Tapi Bapak cuma punya saya.

Oh, Ya, diam-diam, Bapak memperhatikan dan menilai lelaki yang dekat dengan saya. Secara naluri bawah sadar pun, saya memilih lelaki yang sedikit banyak mirip dengan Bapak. Bapak saya adalah lelaki yang sempurna, menurut saya. Tampan (setidaknya kata saya dan Mama), pekerja keras, serba bisa (mulai pekerjaan rumah tangga, mengatur uang, membetulkan listrik dan genteng, sampai bermain alat musik), penyayang, tidak banyak omong, dan banyak lainnya yang jika saya sebutkan, bisa-bisa pembaca ingin mengambil Bapak saya.

Ah, Bapak. Bahkan saat ini, ketika saya masuk paragraf ini, Bapak sedang berpura-pura duduk-duduk menikmati angin malam di garasi belakang sambil terbatuk-batuk demi menjaga saya yang dengan egois sedang menulis tentang beliau.


Benar,kan, Bapak saya membuat kamu jatuh cinta?