Tuesday, January 28, 2014

Melodi Masa Lalu

Malam semuram sekam .
Rindu semakin syahdu .
Katak berdansa diiringi melodi hujan yang makin ritmis .

Redup bohlam beranda penanda waktu yang mulai menua satu persatu .

Kunang-kunang terbang membawa girang yang tak kunjung menghilang ; Kau dan aku .
Masih duduk dalam diam .
Menunggu orkestra hujan berakhir .

Aku punya rindu.
Kau pun begitu.
Aku tau .

Berbicara masa lalu , bukan berarti mengenang apa yang telah berlalu .

Mengingat apa yang masih bisa diingat , bukan berarti sengaja mengingat-ingat.

Kita masih terdiam , saling mengenang dan mengingat . Tanpa perlu berusaha untuk mengulang .

Friday, January 24, 2014

Harusnya

Harusnya aku tau bahwa aku bukan dirimu ,
Dan dirimu bukan aku ,

Harusnya aku sadar bahwa hidupku bukan hidupmu , dan hidupmu bukan hidupku .

Harusnya aku faham bahwa meski aku mencoba membias dalam lingkaranmu , kau tak akan pernah bisa membias dalam lingkaranku .

Harusnya aku tau , bahwa cinta tak selalu bersambut , bahwa dunia tak selalu adil .

Redup Neon Cafe dan Kopi yang Mulai Dingin

ROMANTISME LATTE KOPI
by: Wildan T.R

Sebuah latte
Berdasar air beratap lembut susu
Pilihan padu, padu denganmu
Cair dan lembut

aku lebih memilih kopi dingin.
Pahit
Hitam
Dingin seperti hatiku

Tapi kopi dan latte yang kita pilih terlihat serasi di atas meja
Di terangi lampu kuning redup
Kita semakin terlihat romantis
Setelah itu habis, tinggalah kita yang beradu manis

24 Januari 2014

BERCENGKRAMA DENGAN KOPI DAN RINDU YANG MENGGEBU
by: Raisa Izzhaty

Hujan rintik dan jam yang berdetik
Menemani hati yang menggelitik

Rindu memang masih mengacau
Tapi pertemuan singkat membuat segalanya tak lagi risau

Kopi dingin
Vanilla dingin
Sedingin hati yang kau genggam erat-erat

"Tak ada yang perlu dirisaukan,"
Katamu
"Aku pergi cuma sebentar,"
Katamu lagi.

"Tak ada yang tidak aku risaukan,"
Kataku.
"Kamu pergi sebentar, tapi rindu tidak mengenal kata sebentar,"

24 Januari 2014

(Masing-masing puisi ditulis dalam 10 menit. Beradu manis di  kursi sebuah cafe es krim yang kalah manis)

Thursday, January 23, 2014

Elegi Seorang Calon Sarjana

Menggendong kamus
Menggendong

Menggendong buku
Menggendong

Menggendong ilmu
Menggendong

Menggendong harapan
Menggendong

Menggendong cita
Menggendong

Meski berat tetap menggendong
Meski panas tetap menggendong
Tanpa keluh , bermandi peluh

Teringat kantong bapak yang tipis
Teringat tangan mamak yang keriput
Teringat adik yang belum bayar SPP

Menggendong terus menggendong.
Semakin lama .
Semakin berat.

Wednesday, January 22, 2014

PECUNDANG

"Maaf," 

Hanya Kata-kata itu yang mampu telingaku terima. Selebihnya hanya suara guntur yang tak henti mengejek lelaki bodoh yang baru saja menjadi pecundang .
Ya. Aku adalah pecundang baru yang dikalahkan oleh rasa menduga duga. Selama ini aku terlalu percaya pada apa yang aku lihat, apa yang ku dengar. Aku mengabaikan yang seharusnya aku rasakan dan pahami . 

Perempuan itu. Ya, perempuan bertubuh ringkih yang hanya padanya selalu kuingin merengkuhkan bahuku. Perempuan dengan senyum bagai kepak kupu kupu tanpa cela, tanpa cacat. Aku mulai mencintainya sejak ia menginjakkan kaki di kelas sebagai murid baru. Perempuan sempurna di mata semua orang. Di mata seorang lelaki sepertiku. Lelaki yang berjuang untuk tidak lagi menjadi cemoohan, guyonan, bahan pelecehan, pecundang. Tapi memang nyatanya hidupku memang ditakdirkan menjadi pecundang.

Perempuan itu selalu menoleh kearahku. Tersenyum. Dan membelaku ketika mereka mengejek. Aku melayang . Aku merasa bukan pecundang. Aku jatuh cinta. Dan aku merasa perempuan itupun memiliki rasa yang sama.

petir sore ini dan kata kata penolakan dari ungkapan hati yang kuberikan cukup mewakili kata ,"Dasar pecundang,".

Terimakasih. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku masih berharap. Dan berjuang untuk tak lagi menjadi pecundang .