Friday, November 7, 2014

ADA YANG MENUNGGUMU DI UJUNG LORONG INI

Suatu hari yang lampau,
Kita saling melepas gandengan.
Saling meletakkan senyum dan tatap mesra.

Bahkan kita saling mencipta kata yang menyakiti telinga
Saling menikam hingga membuncahlah darah

Aku berjalan lebih jauh didepanmu.
Meninggalkan kamu yang terseok
Aku tak lagi menoleh
Kau mengira aku terlampau sombong untuk menoleh

Suatu hari kemudian setelah hari yang lampau,
Aku berdiri di ujung lorong ini.
Berbalik, menatapmu.
Mengawasi setiap langkahmu.
Aku berdiri menunggu tangan dan jemari berkait.
Menunggu senyum dan tatap mesra kembali dipakai.

Namun hidup, sayangku, seperti hujan bulan November.
Selalu berubah.

Engkau telah mengaitkan jari padanya.
Engkau telah menyematkan senyum pada bibir selain aku.

HUJAN NOVEMBER

Aku merindukan kamu.
Kamu yang dulu pernah mengajakku bergandengan tangan menerobos hujan di bulan november.
Kamu yang dulu menepi sejenak untuk memasangkan mantel.
Kamu yang dulu rela basah kuyup demi menahan tempias air hujan agar tak mengenaiku.

Jika November ini tak lagi sama,
Bolehkah sejenak kukenang dingin yang pernah membuat lenganmu memelukku?

Dan jika memori ini telah hilang pada ingatmu,
Bolehkah sejenak kutitipkan rindu pada langit yang menangis ?

Tak akan ada yang sama.
Hujan ini,
Maupun kamu.

Teruntuk, kamu yang kutemui (lagi) pada Hujan bulan November.

Sunday, July 13, 2014

EPILOG

EPILOG

Seperti kemarau yang diakhiri hujan
maka kemudian kisah demi kisah akan jua bertemu akhir
Akan jua bertemu titik
dan tak lagi peduli koma.

Sampailah sang perempuan dalam kalimat terakhirnya.
Pada ujung setiap terik doanya.
Pada ujung geram yang tak tersampaikan jua.

Bilamana hujan akhirnya berhenti pula,
maka sang perempuan berkaca pada sahara,
Bagaimana rupa ?





Wednesday, June 25, 2014

Berlari


BERLARI

Hati memiliki cara tersendiri untuk mengobati lukanya.
Bertahan atau pergi.

Aku telah melakukan keduanya.
Bertahan untuk sebuah alasan yang tak rasional; enggan melupakan.
Enggan membuat segala yang indah berlalu begitu saja menjadi kenangan.
Enggan melukai diri sendiri dengan melihat segala yang telah dilakukannya padamu, pada akhirnya ia lakukan untuk orang lain.
Suatu hari, aku memilih pergi.
Memilih untuk mengambil hati yang pernah kutitipkan untuk kubawa berlari.
Berlari sekuat yang aku mampu.

Saat ini aku berhenti berlari.
Sedikit mengenang apa yang telah terlewati.
Hingga aku lupa, bahwa aku seharusnya terus berlari.
Hingga aku lupa bahwa berlari itu ke depan, bukan ke belakang.
Jangan membuatku ingat bahwa aku harus berlari.
Karena menuju titik dimana kita dipertemukan adalah hal yang paling manis yang pernah kutemui.



Sunday, May 18, 2014

Pahlawan Berkumis Tebal

Pahlawan Berkumis Tebal

Situbondo, 18 Mei 2014 22:20


Setelah membaca ini, saya yakin kamu langsung jatuh cinta pada Bapak saya.

Saat menulis ini, beliau sedang ada di belakang saya, membetulkan helm sehabis membantu saya membetulkan wi-fi di rumah.
Jika dibilang sosok Bapak adalah sosok tokoh idola, dulunya saya mengelak. Satu-satunya tokoh idola saya adalah Ibu atau biasa saya sebut Mama.
Memang, Nabi Muhammad saja mengatakan Ibu sebanyak tiga kali baru kemudian ayah, ketika ditanya siapa saja yang patut kita hormati.
Namun, sejak beberapa bulan ini saya baru menyadari, bahwa tokoh idola saya bertambah. Bapak.

Saya akui , saya bukan orang yang pandai bermanis-manis pada orang tua. Keluarga saya pun begitu. Kami sekeluarga tidak pandai mengekspresikan sayang antar satu sama lain. Namun, sekaku-kakunya saya, saya juga seorang anak perempuan biasa. Saya lebih dekat dengan Mama daripada Bapak. Dulu sekali, saya pernah akrab dengan Bapak. Sudah lama sekali. Bapak mencium pipi saya terakhir ketika saya naik kelas 4 SD. Mungkin Bapak menyadari putrinya sudah tumbuh dewasa.

Bapak saya adalah seorang yang keras. Bapak tak segan memarahi saya ketika nilai saya menurun. Bahkan melarang saya pergi meski saya sudah meminta izin dengan beribu alasan. Saya sempat membenci sifat keras Bapak. Bahkan parahnya, saya pernah menulis di buku harian, andai Bapak tidak ada, tentu saya akan bebas pergi kemana-mana. Begitu tulis saya dulu.
Jika saya boleh memutar waktu, saya tidak akan melawan Bapak dan menulis hal buruk tentang Bapak di buku harian saya dulu.
Seandainya saya tahu, begitu sayangnya Bapak pada saya, saya akan menghapus tulisan saya dulu dan menggantinya dengan “Saya sayang Bapak”.
Perasaan saya yang dulu ala kadarnya pada Bapak, setelah kejadian beberapa bulan lalu, berubah seratus persen. Saya tergila-gila pada Bapak. Saya merasakan keharuan luar biasa pada sosok Bapak. Air mata saya spontan mengalir ketika saya menuliskan bagian ini.

Bapak kecewa pada saya.

Bapak pernah memimpikan saya kuliah kedokteran atau paling tidak bukan sastra indonesia seperti apa yang saya pilih sekarang.
Bapak sangat berharap saya dapat membahagiakan keluarga seperti Kakak-kakak sepupu saya yang dibanggakan oleh Bude-bude saya ketika pertemuan keluarga.
Saya paham betapa kecewanya Bapak ketika saya memutuskan kuliah di jurusan yang saya sukai.

Yang membuat saya merasa bersalah pada Bapak dan memasukkan Bapak di dalam daftar idola saya, adalah, Bapak tidak pernah menunjukkan rasa kecewa Bapak di depan saya. Bahkan jika Mama tidak memberi tahu saya tentang hal ini beberapa bulan lalu, saya mungkin masih berpikir bahwa bapak adalah satu-satunya orang yang mendukung saya berada di pilihan saya saat ini. Bapak selalu membanggakan saya di depan teman-temannya yang sok memamerkan anaknya yang berkuliah di ITS , IPDN dan sebagainya. Entah, Bapak hanya ingin membuat saya tetap percaya diri atau bagaimana. Saya terlampau takut untuk mengira-ngira.

Air mata saya menetes lagi. Ah, Bapak.
Pahlawan berkumis saya.

Sejak saya kuliah dan tinggal jauh dari rumah, Bapak semakin perhatian pada saya. Dulu, Bapak yang selalu melarang saya. Sekarang, Bapak yang membebaskan saya dari segala larangan Mama. Bapak yang pendiam selalu memberikan hal-hal tak terduga pada hidup saya.

Suatu hari, saya merengek minta tablet keluaran terbaru. Susah sekali rasanya mendapatkan kepercayaan dari Mama untuk membelikannya. Di keluarga saya, selalu diajarkan untuk tidka mudah memperoleh sesuatu. Mendapatkan apapun, harus dengan kerja keras. Untuk mendapatkan Tablet itu, saya harus kerja keras. Saya berusaha untuk ikut lomba menulis dimana-mana. Tapi hasilnya nihil. Saya kembali merengek pada Mama dan Bapak. Mama tetap melarang. Saya merasa pupus sudah harapan saya untuk asik-asikan instagraman dengan tablet keluaran terbaru itu.

Esok harinya, rasanya saya ingin melompat gembira ketika Bapak mengirim pesan singkat berisi,

“Tabnya mau tipe apa?”

Kamu pasti iri dan ingin punya Bapak seperti Bapak saya.

Tapi Bapak cuma punya saya.

Oh, Ya, diam-diam, Bapak memperhatikan dan menilai lelaki yang dekat dengan saya. Secara naluri bawah sadar pun, saya memilih lelaki yang sedikit banyak mirip dengan Bapak. Bapak saya adalah lelaki yang sempurna, menurut saya. Tampan (setidaknya kata saya dan Mama), pekerja keras, serba bisa (mulai pekerjaan rumah tangga, mengatur uang, membetulkan listrik dan genteng, sampai bermain alat musik), penyayang, tidak banyak omong, dan banyak lainnya yang jika saya sebutkan, bisa-bisa pembaca ingin mengambil Bapak saya.

Ah, Bapak. Bahkan saat ini, ketika saya masuk paragraf ini, Bapak sedang berpura-pura duduk-duduk menikmati angin malam di garasi belakang sambil terbatuk-batuk demi menjaga saya yang dengan egois sedang menulis tentang beliau.


Benar,kan, Bapak saya membuat kamu jatuh cinta?


Wednesday, March 5, 2014

PD

Aku terlalu menarik untuk hanya sekedar kau jadikan waktu luang .

Jangkrik vs Kamu

Jangkrik.
Mengerik.
Kamu.
Mengkritik.

Kamu.
Jangkrik.
Kamu jangkrik.

Tuesday, January 28, 2014

Melodi Masa Lalu

Malam semuram sekam .
Rindu semakin syahdu .
Katak berdansa diiringi melodi hujan yang makin ritmis .

Redup bohlam beranda penanda waktu yang mulai menua satu persatu .

Kunang-kunang terbang membawa girang yang tak kunjung menghilang ; Kau dan aku .
Masih duduk dalam diam .
Menunggu orkestra hujan berakhir .

Aku punya rindu.
Kau pun begitu.
Aku tau .

Berbicara masa lalu , bukan berarti mengenang apa yang telah berlalu .

Mengingat apa yang masih bisa diingat , bukan berarti sengaja mengingat-ingat.

Kita masih terdiam , saling mengenang dan mengingat . Tanpa perlu berusaha untuk mengulang .

Friday, January 24, 2014

Harusnya

Harusnya aku tau bahwa aku bukan dirimu ,
Dan dirimu bukan aku ,

Harusnya aku sadar bahwa hidupku bukan hidupmu , dan hidupmu bukan hidupku .

Harusnya aku faham bahwa meski aku mencoba membias dalam lingkaranmu , kau tak akan pernah bisa membias dalam lingkaranku .

Harusnya aku tau , bahwa cinta tak selalu bersambut , bahwa dunia tak selalu adil .

Redup Neon Cafe dan Kopi yang Mulai Dingin

ROMANTISME LATTE KOPI
by: Wildan T.R

Sebuah latte
Berdasar air beratap lembut susu
Pilihan padu, padu denganmu
Cair dan lembut

aku lebih memilih kopi dingin.
Pahit
Hitam
Dingin seperti hatiku

Tapi kopi dan latte yang kita pilih terlihat serasi di atas meja
Di terangi lampu kuning redup
Kita semakin terlihat romantis
Setelah itu habis, tinggalah kita yang beradu manis

24 Januari 2014

BERCENGKRAMA DENGAN KOPI DAN RINDU YANG MENGGEBU
by: Raisa Izzhaty

Hujan rintik dan jam yang berdetik
Menemani hati yang menggelitik

Rindu memang masih mengacau
Tapi pertemuan singkat membuat segalanya tak lagi risau

Kopi dingin
Vanilla dingin
Sedingin hati yang kau genggam erat-erat

"Tak ada yang perlu dirisaukan,"
Katamu
"Aku pergi cuma sebentar,"
Katamu lagi.

"Tak ada yang tidak aku risaukan,"
Kataku.
"Kamu pergi sebentar, tapi rindu tidak mengenal kata sebentar,"

24 Januari 2014

(Masing-masing puisi ditulis dalam 10 menit. Beradu manis di  kursi sebuah cafe es krim yang kalah manis)

Thursday, January 23, 2014

Elegi Seorang Calon Sarjana

Menggendong kamus
Menggendong

Menggendong buku
Menggendong

Menggendong ilmu
Menggendong

Menggendong harapan
Menggendong

Menggendong cita
Menggendong

Meski berat tetap menggendong
Meski panas tetap menggendong
Tanpa keluh , bermandi peluh

Teringat kantong bapak yang tipis
Teringat tangan mamak yang keriput
Teringat adik yang belum bayar SPP

Menggendong terus menggendong.
Semakin lama .
Semakin berat.

Wednesday, January 22, 2014

PECUNDANG

"Maaf," 

Hanya Kata-kata itu yang mampu telingaku terima. Selebihnya hanya suara guntur yang tak henti mengejek lelaki bodoh yang baru saja menjadi pecundang .
Ya. Aku adalah pecundang baru yang dikalahkan oleh rasa menduga duga. Selama ini aku terlalu percaya pada apa yang aku lihat, apa yang ku dengar. Aku mengabaikan yang seharusnya aku rasakan dan pahami . 

Perempuan itu. Ya, perempuan bertubuh ringkih yang hanya padanya selalu kuingin merengkuhkan bahuku. Perempuan dengan senyum bagai kepak kupu kupu tanpa cela, tanpa cacat. Aku mulai mencintainya sejak ia menginjakkan kaki di kelas sebagai murid baru. Perempuan sempurna di mata semua orang. Di mata seorang lelaki sepertiku. Lelaki yang berjuang untuk tidak lagi menjadi cemoohan, guyonan, bahan pelecehan, pecundang. Tapi memang nyatanya hidupku memang ditakdirkan menjadi pecundang.

Perempuan itu selalu menoleh kearahku. Tersenyum. Dan membelaku ketika mereka mengejek. Aku melayang . Aku merasa bukan pecundang. Aku jatuh cinta. Dan aku merasa perempuan itupun memiliki rasa yang sama.

petir sore ini dan kata kata penolakan dari ungkapan hati yang kuberikan cukup mewakili kata ,"Dasar pecundang,".

Terimakasih. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku masih berharap. Dan berjuang untuk tak lagi menjadi pecundang .