Wednesday, July 24, 2013

Sign (!)

ada banyak kesalahan yang menumpuk. berjejalan dengan rasa sesal, kemarahan, yang sudah awal membusuk. kamu pun bertanya, "tak adakah rasa sayang untukku yang kau simpan?"
ku jawab dengan diam. rasa pengecut diam-diam menusuk. diam-diam menggigilkan badan.
"bukankah kamu bilang, aku cinta matimu? kemana janjimu untuk menikahi aku"
aku gamang. apa aku pernah mengucapkan? untuk aku sendiri, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. mana mungkin aku dengan senang akan mengajak seseorang bersusah-susahan untuk hidup bersama?!
"kamu cinta aku kan?" desakmu nanar.
Tidak. aku hanya nafsu tubuhmu. geliat birahimu.. kau terus meratapi, mengapa semua harus terjadi. bukankah kalau kita saling cinta, kita akan selalu bersama?

Thursday, May 30, 2013

PASRAH

PASRAH
Situbondo, 31 Mei 2013       12:08

Kau mau pergi, terserah
Kau mau mati, terserah
Kau mau marah, terserah
Kau mau apa, terserah

Hanya bisa mengangguk pasrah.
Menyerah.


( Teruntuk lelaki yang terlalu keras kepala; TERSERAH )


ÁRVORE

ÁRVORE*
*) Pohon dalam Bahasa Portugis


Musim gugur tiba
Satu-persatu menua
Yang pergi tertawa,
Yang tersisa berduka, mengiba






Wednesday, May 29, 2013

In De Naam Van God


In De Naam Van God*
(Kritik atas Mereka yang Mengatasnamakan Tuhan)

Handphonenya baru saja berhenti berdering. Meninggalkan suara berdenging di kuping. Tumpukan kertas di hadapannya sudah membuatnya sinting. Sejam lagi berkas itu harus ada di tangan kliennya yang katanya orang penting. Tujuh kali sudah jam tua di sudut ruang kerja berdebu itu berdenting. Dan ia masih tak bergeming.

Handphonenya baru saja berhenti berdering. Meninggalkan suara berdenging di kuping. Pimpinan sudah membuatnya sinting dengan meeting yang sarat iming-iming.
“ Kepentingan umat adalah urusan penting!” kata pimpinan yang juga petinggi partai paling penting.
Dua kali sudah ia bersuci, tapi kepalanya masih pusing tujuh keliling. Dan ia masih tak bergeming.
***
            Gelas kopinya sudah kosong. Menyisakan sunyi yang makin melolong. Kepalanya penuh sesak dengan saraf menegang yang tak kunjung tertolong. Kliennya menolak berkas-berkasnya yang ia kerjakan dengan gila-gilaan. Bukan hanya dengan penolakan. Tapi dengan makian.
“Proyek sampah!” diikuti berkas-berkas yang meluncur ke tempat sampah. Ia merasa malu dengan pandangan mereka yang menelanjanginya malam ini. Dengan mesin ketik elektroniknya yang menunda untuk mati demi berkas-berkas penting ini. Dengan gelar sarjana lulusan luar negeri.

            Gelas kopinya sudah kosong. Menyisakan sunyi yang makin melolong. Kepalanya penuh sesak dengan tawaran-tawaran atas nama umat dan agama yang perlu ditolong. Pimpinan membujuk dirinya dengan gila-gilaan. Bukan hanya dengan dalil dan ayat Tuhan. Tapi dengan paksaan.
“Berjihad atas nama Allah!” diikuti dengan mulut-mulut lain yang mengucap kalamullah.
“Kau harus malu dengan Tuhanmu yang menciptamu. Dengan Nabimu yang bersedia sengsara karena ulah umat-umat sepertimu. Dengan pikiranmu yang gentar menghadapi kafir-kafir musuh agamamu!”
***
            Tak pernah sekalipun ia berdoa. Tapi berbeda dengan hari ini. Di tangannya sudah tergenggam alkitab bersampul hitam yang masih terbungkus rapi. Entah sudah berapa kali ia mematut diri. Ini hari pertamanya menjadi orang beragama. Meski di KTP sudah lama tertera. Setelah kejadian berkas-berkas yang meluncur ke tong sampah itu, ia mulai merasa butuh Tuhan. Yang memberinya kehidupan. Yang memberinya sandaran.  

            Tak pernah sekalipun ia tak berdoa. Tapi berbeda dengan hari ini. Ia sengaja bangun kesiangan. Tawaran pimpinan yang mengatasnamakan Tuhan sudah ia pikirkan semalaman. Di tangannya sudah tergenggam bahan peledak dan kabel biru putih. Juga beberapa paku dan beling-beling yang kapanpun bisa membikin nyeri. Ini hari pertamanya membela agamanya. Meski di dalam hatinya sudah lama terbaca. Setelah kejadian sahabat-sahabatnya rela mati demi Tuhan yang maha satu, ia mulai merasa harus menegakkan keadilan. Demi Tuhan. Demi Yang memberi kehidupan. Demi Yang memberinya sandaran.
           
            Headline di koran-koran pagi semuanya seragam , tentang pembunuhan masal menggunakan bahan peledak, bom. Bom di rumah ibadah , pelakunya sudah tanpa kepala. Mati dengan pasrah , katanya , Jihad Fisabilillah . Lelaki dengan alkitab di tangan, yang baru pertama kali ia genggam , jadi korban. Setidaknya, ia mati dengan jiwa suci .

*) Atas Nama Tuhan
“Indonesia adalah plural, pahami jihad dengan tepat, bukan dengan radikal. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekedar mainan,”




            

Diam Hingga Padam

Diam Hingga Padam
( Sepuluh besar Lomba Cepen Mahasiswa Se- Universitas Negeri Malang 2013)



Perempuan itu menyapu wajahnya dengan spons yang mulai menghitam. Terlihat kerutan di sudut matanya mulai tertutup tebalnya bedak yang sedari tadi ia sapukan. Sudah tiga hari ini aku setia menemani hari-harinya. Sejujurnya tidak sepanjang hari, hanya ketika ia memerlukanku. Seperti saat ini. Hampir setengah jam, menurut perkiraan waktuku, perempuan itu bersamaku. Kelihatannya ia akan menghadiri acara yang benar-benar resmi.  Dari wajahnya, perempuan itu terlihat masih belum terlalu tua, mungkin sekitar tiga puluh lima tahun. Hanya saja, mata sendunya membuatnya terkadang terlihat benar-benar buruk. Tiga hari ini, perempuan bermata sendu, begitu akhirnya aku memanggilnya, selalu lebih lama menyapukan sponsku ke daerah matanya, mungkin untuk menutupi mata sendunya yang terlihat seperti habis begadang ribuan tahun, selain itu, tentu saja untuk menutupi kerutan halus di sekitarnya. Aku tak pernah tahu, ternyata perempuan di belahan dunia manapun, tua atau muda, pasti memerlukan aku. Jika kutanya, siapa yang paling kau sayangi? Mungkin secara otomatis kau akan berkata, ibumu, suamimu, pacarmu. Tapi pikirkan, perempuan manapun, sebenarnya lebih mencintai aku. Perempuan mana yang tidak menepukkan spons ku ke wajahnya sebelum bertemu dengan orang yang ia sayangi ?

            Kamar itu begitu luas, tampaknya. Namun aku tak begitu yakin karena pandanganku terbatas. Mungkin jika perempuan bermata sendu itu meletakkanku di pojok kamar, aku bisa memandang semuanya dengan jelas. Namun sayang sekali, meja rias perempuan itu, yang juga tempatku berdiam diri berada di tengah, dekat tempat tidurnya. Oh ya, aku bersyukur perempuan itu lupa menutupku, jadi aku bisa leluasa melihat-lihat.
“Krieeett...!” suara pintu kamar mengagetkanku. Sungguh, hal yang paling membuatku terkejut selama berada di kamar perempuan bermata sendu ini adalah suara pintu kamar yang benar-benar menakutkan seperti backsound film-film horor jaman sekarang. Seorang lelaki berkostum safari dan berdasi tiba-tiba duduk di hadapanku. Matanya menyala-nyala gusar.
 “Bruak!!!”Seketika ia mengacak-ngacak benda di atas meja. Ups! Akupun ikut terlempar. Untung aku jatuh tepat di atas permadani. Gila! Lelaki itu benar-benar gila! Belum puas ia mengacak-ngacak meja, dipecahkannya hiasan keramik di pojok kamar. Aku bisa melihatnya dari sini dengan jelas. Kemudian, aku mendengar suara perempuan yang kuyakini sebagai suara  perempuan bermata sendu.
“Pa.. sudah,Pa.. Sudah..,” perempuan itu berkata sambil tersedu.
“Kamu memang perempuan goblok! Aku kerja siang malam untuk kamu! Untuk beli barang-barangmu yang super mahal itu! Kamu masih saja curiga!” jawab lelaki itu kasar.
“Ma..maaf..Pa..Mama cuma tanya, perempuan itu siapa..,”
“Itu bukan urusanmu! Urus saja rahimmu yang tak bisa mengandung benih dariku itu!”
Kemudian lelaki itu meninggalkan kamar. Selanjutnya, yang aku dengar hanyalah isak tangis perempuan bermata sendu  sepanjang malam.

            Pagi ini perempuan bermata sendu kembali menyapukan sponsku ke wajahnya. Seperti biasa, lebih lama untuk daerah mata. Aku sempat kaget ketika melihat matanya. Lebih sendu dari yang kukira. Bukan hanya sendu, mungkin. Tapi bengkak. Ya, benar-benar bengkak dan mengerikan. Pasti gara-gara kejadian malam tadi. Siapa lelaki itu, masih menjadi misteri bagiku.
“Ini sudah pilihanku,” katanya tiba-tiba. Aku melihat sekeliling dari pandanganku yang terbatas. Kosong. Tak ada siapa-siapa. Perempuan itu berbicara pada hening di sekelilingnya.
“Dulu kukira menerima pinangannya adalah pilihan terbaik. Ternyata aku salah. Waktu dapat mengubah perasaan seseorang,” lanjutnya seraya menyapukan sponsku lagi.
Aku ingin tertawa. Meskipun aku hanya tergolong sebuah benda, aku tahu banyak hal. Termasuk cinta. Dengar, perasaan yang benar-benar tulus, tidak akan mampu diubah oleh apapun,termasuk waktu. Menikah itu seperti bertaruh. Yang menang akan bahagia hingga maut memisahkan. Yang kalah, akan sengsara dan saling membenci. Tampaknya, dulu perempuan bermata sendu itu tak bisa membedakan perasaan itu cinta atau hanya keinginan belaka. Jadilah, ia sekarang kalah taruhan. Andai perempuan itu bisa mendengarku, mungkin sudah dibantingnya aku hingga berkeping.

            Perempuan bermata sendu itu memasukkanku ke dalam tasnya. Gelap. Aku hanya bisa mendengar deru pendingin udara di dalam mobil. Juga sayup musik jazz. Mau kemana perempuan ini? Belum selesai aku mengira-ngira, perempuan itu mengeluarkanku dari tasnya, dan menyapukan sponsku ke wajahnya.
“Semoga aku tidak terlihat menyedihkan,” katanya. Ah, di mataku, perempuan ini tetap menyedihkan. Matanya tetap sendu. Kata-kata yang baru saja ia ucapkan makin membuatnya terlihat menyedihkan.
            Perempuan itu kembali memasukkanku ke dalam tasnya dan membawaku berjalan hingga kudengar ucapan “Selamat pagi,Bu,” oleh setiap orang yang ia lewati. Suara pintu dibuka, dan kurasakan perempuan itu meletakkan tasnya di atas meja. Selanjutnya, yang aku dengar hanya suara backsound selamat datang milik windows, suara jari yang terus mengetik, juga terkadang suara perempuan bermata sendu yang menguap menahan kantuk.

            “Makan siang,yuk !”
“Kamu duluan saja,”
“Beneran?”
“Iya, aku masih kenyang,”
“Baiklah kalau begitu. Ehm, kalau ada masalah, berbagilah. Semua temanmu siap mendengarkan,”
Kukira setelah perempuan yang mengajaknya makan siang ini menawarkan membantu masalahnya, akan terdengar suara dua orang perempuan yang saling curhat. Namun ternyata tidak. Hening. Hingga perempuan itu pergi dan menutup pintu. Hei, perempuan bermata sendu! Harusnya kau bercerita padanya! Semua orang butuh tempat bercerita. Barangkali usai bercerita padanya, sedikit demi sedikit sendu di matamu mulai berkurang. Dan kau tak perlu lama-lama menepukkan sponsku ke matamu. Hei! Mengapa kau diam saja? Ah, ya.. aku lupa bahwa kau tak mendengarku. Perempuan itu kemudian membukaku, mematut wajahnya didepanku.
“Kukira tebalnya kau akan menutup semua duka yang kusimpan. Ternyata tidak. Apa aku sebegitu menyedihkan?”
Hei, kau bertanya padaku? Itu pertanyaan konyol, perempuan! Lihat! Lihatlah matamu! Mengerikan!
“Drrtt..drttt..,” ponselnya yang tadi ia letakkan tepat di sebelahku, di dalam tas, bergetar. Buru-buru di rogohnya tas hingga menemukan ponselnya.
“Halo..,” sapanya.
“…,”
“Sekarang, Pa? Mama masih di kantor,Pa. Masih banyak urusan yang harus..,”
“…”
“I..Iya, Pa.. Mama kesana sekarang. Halo? Pa? Halo?”
Perempuan itu menghela napas kuat-kuat. Ah, pasti lelaki itu lagi kan yang menelepon? Kau mau kemana? Ia menyuruhmu kemana ? Tidak usah pergi, lah. Aku tahu kau keberatan. Nampaknya aku tak didengar. Tentu saja. Perempuan bermata sendu itu menenteng tasnya, berjalan cepat-cepat, pasti menuju mobilnya. Nah, benar saja. Deru pendingin udara mulai terdengar lagi. Juga sayup isak tangis perempuan bermata sendu.

            Perempuan itu meninggalkanku dalam keadaan terbuka di wastafel toilet mewah yang kelihatannya adalah toilet hotel berbintang. Tapi tetap saja, namanya toilet, semewah apapun, pasti berbau. Perempuan bermata sendu itu terlihat buru-buru hingga meninggalkanku di sini. Ah, mengapa harus terjebak di dalam toilet. Menjijkkan. Di hadapanku ada dua perempuan yang kelihatannya juga menghadiri acara yang sama dengan perempuan bermata sendu itu. Mereka sedang memperbaiki riasannya. Aku ingin tertawa melihat keduanya. Perempuan yang memakai gaun merah itu riasan pipinya seperti baru ditampar, merah sekali. Perempuan yang satunya lagi, yang memakai gaun merah muda dengan belahan dada amat rendah, riasan alisnya membuatnya tampak heran. Sangat tinggi. Lucu sekali!
“Eh, tahu tidak? Pak Broto, bos kita, katanya sih selingkuh dengan sekretaris barunya yang super seksi itu, lho!” Nah, begitulah perempuan, di manapun pasti bergosip. Aku menyimak.
“Iya, aku juga dengar. Katanya sih, Pak Broto bosan dengan istrinya, Bu Indah, yang tidak bisa hamil. Padahal sudah sepuluh tahun menikah,”
“Wah, kasihan sekali, ya Bu Indah. Padahal, setahuku, Bu Indah adalah perempuan yang lembut. Pak Brotonya aja yang nggak bisa lihat barang baru,”
Kemudian mereka berdua tertawa. Entah siapapun Bu Indah itu, aku turut prihatin. Pasti sendu matanya sama dengan perempuan bermata sendu itu. Hei, itu dia wanita bermata sendu! Pasti dia merasa meninggalkan aku. Dua perempuan yang sedari tadi terbahak seketika diam, membungkuk, tersenyum, dan berkata kepada wanita bermata sendu,
“Selamat malam, Bu Indah…,”
           
            Perempuan itu terdiam setelah ponselnya menerima pesan singkat. Lagi-lagi ia lupa menutupku. Aku tak keberatan, karena cerita tentang wanita bermata sendu ini amat menarik untuk ku saksikan.
“Aku selalu mencoba bertahan untuk mencintaimu. Jika memang benar apa yang mereka semua gunjingkan, entah apa lagi darimu yang harus aku percaya. Aku perempuan biasa, bukan Tuhan! Aku diam karena aku bertahan. Lihat saja, apa yang akan kulakukan padamu, ketika aku sudah tak bisa lagi bertahan,” Aku mendengarkan. Aku merasakan dendam yang tak tertahankan lewat mata sendu perempuan itu. Sendu bercampur lelah. Sendu bercampur marah. Hei, wanita bermata sendu! Kau memang sudah tak perlu bertahan lagi. Lelakimu sudah tak menganggapmu ada. Dengar, dengarkan aku. Perempuan-perempuan kemarin bercerita tentang lelakimu! Iya, lelaki yang membuatmu masih bisa bertahan! Ia bercinta dengan sekretarisnya sendiri karena kau tak kunjung hamil! Tak ada alasan lagi untukmu bertahan! Ah, sial! Kau tak bisa mendengarku!

            Perempuan itu menentengku dalam tas. Kudengar suara langkah kaki sepatu hak tinggi nya. Mau kemana dia? Mengapa seperti terburu-buru? Sayang sekali aku tak bisa melihat semuanya. Terdengar suara tombol lift yang ia tekan. Tak seberapa lama, langkah kakinya terdengar kembali. Kemudian terhenti. Selanjutnya, suara pintu yang diketuk beberapa kali. Hening. Lama. Suara pintu dibuka. Suara lelaki, sekilas mirip suara lelaki bersafari yang membantingku waktu itu. Suara jeritan perempuan bermata sendu. Nyaring sekali. Lelaki itu membentak tak kalah nyaring. Suara benda-benda dibanting. Ups! Aku lagi-lagi ikut terbanting! Aku terbuka. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Perempuan bermata sendu, lelakinya yang kuyakin bernama Broto, dan.. satu lagi perempuan menjijikkan yang berdiri di dekatnya dengan hampir tanpa busana. Perempuan bermata sendu membelakangiku. Aku tak bisa melihat matanya. Bahunya berguncang. Kurasa ia menangis. Broto mencoba menenangkannya. Tapi ia menepiskannya. Bagus! Hei, perempuan bermata sendu, jangan ampuni lelaki itu!
Perempuan bermata sendu merogoh saku blazer birunya. Apa aku tak salah lihat? Itu.. pistol! Ia akan membunuh lelaki itu! Perempuan itu menarik pelatuknya pelan-pelan.
“Ma.. jangan, Ma.. Kita bisa bicarakan ini baik-baik..,” Broto tampak gemetaran dan mencoba mencegahnya.
“Ini yang akan kulakukan ketika aku sudah tak bisa bertahan! Pergi ke neraka!” teriak wanita bermata sendu yang kuyakin kali ini matanya merah menyala-nyala. Kemudian terdengar suara tembakan tiga kali. Dan kulihat Broto serta perempuan tanpa busana itu tergeletak dengan dada yang bolong. Bagus! Akhirnya kau melakukannya! Bagaimana? Kau puas?
“Belum,” tiba-tiba perempuan bermata sendu itu berkata dan berbalik arah menghadapku. Dengan matanya yang merah menyala-nyala, tak lagi sendu, ia arahkan moncong pistolnya padaku. Kemudian aku hanya mampu mendengar suara tembakan sekali lagi, seketika semuanya gelap.Padam.








Tuesday, February 12, 2013

#abquote

"Kegundahanmu akan berbanding lurus dengan ke-absurd-an-mu" -absurdian-

Beranda


Orang-orang berjalan beriringan
Bendera kuning dikibarkan
Arak-arak mengarak keranda kematian
Lambai-lambaian tanganmu, seolah ajakan
Ku tatap nanar cahaya mata yang meredupkan
Arak-arakan mengarak keranda kematian
Ku lihat cintaku dikebumikan

Tuesday, January 29, 2013

TULI


TULI


    Sudah gelas ketiga, ketika laki laki beraroma buaya itu menyeruak di pandanganku . Seketika itu , retinaku serasa pecah . Lihat , mataku saja enggan menerima sosoknya .
Kemudian ia menyentuh tanganku . Aku tersentak . Rasanya seperti terbakar . Kulitku menolak sentuhannya . Nyata sekali .

Kudengar ia mulai bersuara , Ah .. Telingaku terasa bising sekali. Aku menutup telinga.
Lihat , semua hal yang pernah pasrah dijamahnya , kini mendadak enggan .
"Aku minta maaf," katanya . Ah , bising sekali di telingaku .
"Bullshit," sergah bibirku .
"Dengarkan aku ," ia bersikeras . Aku makin pusing , telingaku mulai mengatup .
"Kau pilih aku atau dia ?" tanya bibirku .
Lama sekali hening . Hening yang kami ciptakan sendiri . Di tengah hingar bingar dunia malam yang gombal .
Detik . Menit . Jam .
"Dia ,"
Telingaku mengatup rapat. Aku sudah tak bisa mendengar lagi. Hening . 



ABADI


ABADI
Kamar kos, 27 januari 2013.

Bukan bersamamu, yang ku mau
Tidak juga dia
Aku hanya ingin
Abadi dalam sendiri
Dingin..
Sepi..


PENING


PENING
Bus Jember Indah, 11 Oktober 2011 

Seperti sinting
Ku ketuk kening
Seperti terasing
Namun terasa bising
Sial, bau pesing !
Ah, pening !




Wednesday, January 2, 2013

Aku Hanya Mampu Diam

Aku Hanya Mampu Diam

Kamis, 3 Januari 2013



Aku bukan wanita yang mudah berkata "aku cemburu"
Bukan juga wanita yang mampu berkata, "jangan adalagi tentang dia dan kamu,"
Aku hanya mampu berharap, kamu mengerti, dalam beribu diam yang kuciptakan
diantara keadaan yang tak ingin ku tau.
Antara dia dan kamu.