Saturday, July 21, 2012

ABQUOTE #1




"Terlalu banyak hal yang terlupa di kehidupan ini tanpa kita sadari . Melewatkan, terlewatkan. Melupakan , terlupakan . Seperti saat kita lupa , ada banyak hari yang terlewatkan sia-sia. Betapa penyesalan selalu datang pada bagian epilog . Tapi , kesempatan , akan selalu ada membuat prolog-prolog baru dengan berbagai penyempurnaan ."



TENTANG MATAHARI ( Cerbung )


TENTANG MATAHARI
Cerita Bersambung .



Hujan masih setia mencabuti titik-titik air dari ranting-ranting pohon komulus nimbus yang menghitam. Sesekali gemuruh petir mengintip dari sela-selanya yang menghitam, kemudian menghujam tanah yang kewalahan menadah jutaan titik air yang jatuh semakin cepat. Katak hijau melompat-lompat kegirangan sambil mulutnya berteriak seakan membaca mantra di musim penghujan.

Aku sendiri masih menanti matahari yang tak kunjung datang dengan membawa sekeranjang bunga kering yang gersang akibat terlalu lama berada di dekatnya. Aku berharap saat lonceng berbunyi dua belas kali nanti –saat dua tangan kurus kerempeng jam dinding bergerak dan terdiam di angka dua belas- matahari mengayuh sepedanya mendekati rumahku. Kemudian ia buru-buru mengetuk jendelaku, dan masuk melalui celah kecilnya. Dan seperti biasanya, ia akan menggangguku yang asyik menghirup aroma kopi hitam favoritku. Ah, fatamorgana yang indah.

Kopi. Air Hitam yang manis, meski kadang pahit –saat aku lupa membubuhkan sedikit gula diatasnya. Aku tak pernah mengaduknya dengan sendok. Aku selalu mengganggu ketenangan air hitam itu dengan jariku. Jorok? Terserah. Yang pasti aku hanya membiarkan jari-jariku bergumul mesra dengan legit dan pahitnya, menjejalkan semua jenis cacing-cacing di kukuku yang menghitam. Dan membagi setiap jejak kenanganku, tentang matahari, padanya, pada air hitam.
Kadang-kadang aku merasa konyol, membagi kenangan dengannya, yang kemudian , raganya –air dan ampasnya-,bersatu kembali dengan ragaku, melewati lorong-lorong gelap dan sempit antara kerongkongan dan usus,sampai anus. Dan lagi, kenangan tentang matahari yang tak pernah usai bermetamorfosis dengan sempurna di setiap jengkal tubuhku, merobek-robek kepercayaanku tentang teori-teori astronomi yang mengatakan bahwa matahari tidak mengitari,tapi menjadi pusat semua pergerakan di jagad raya. Yang aku tahu, matahari yang aku kenal selalu berputar tanpa arah , terhempas angin di ujung kemarau yang panjang.Juga, mematahkan keyakinanku pada teori geografi tentang rentang bulan dimana matahari bersinar lebih kuat. Yang aku tau, dua tahun ini, sinarnya hilang terempas musim penghujan yang panjang.

Aku ingat, malam itu, dua tahun lalu,di ujung musim kemarau. Matahari mengetuk jendelaku dengan tergesa. Ia menyuruhku keluar. Belum sempat berkata-kata, Matahari menarik tanganku dan mengajakku duduk di bawah pohon beringin besar yang akarnya menjalar bagai tangan-tangan yang menggapai-gapai tanah.
Nafasnya tersengal, akibat berlari tadi. Matahari, selalu punya cara yang beda.
Angin malam di musim kemarau,menusuk-nusuk hingga ke tulang. Debu dan butiran pasir berebut masuk atau sekedar mengintip ke dalam celah retina.
Matahari mulai duduk dan bersandar. Aku mengikuti. Ia menengadah, sambil terpejam. Seakan menikmati hantaman angin musim kemarau di wajahnya. Kemudian ia merentangkan tangan, hampir mengenai wajahku.
“Rasakan.Rasakan angin musim kemarau ini,”ujarnya.

-- bersambung --




KILOMETER

KILOMETER
Situbondo , 21 Juli 2012 . Sajak tunggal .

Menertawakan kerinduan .
Menghabiskan kesunyian .

Terlalu sore untuk ku katakan Aku Rindu
Beribu kilometer menertawakan aku yang sendu
Apa Maumu ?

Tak bisakah kau menurunkan satuan mu , kilometer ?

-Untuk lelaki yang selalu kudoakan berada se-milimeter mungkin dengan lenganku-




BASAH

BASAH
Situbondo , 21 Juli 2012 . Prosa tunggal



Bisakah detak berhenti sejenak ?
Sekedar berpijak pada tangkai yang lunak

Adakah sedikit waktu untuk berfikir apa yang mengikir ?
Untuk kembali menjadi fakir tanpa harus pandai bersihir

Sudah , Berhentilah .
Tubuhku basah , terengah dikejar matahari yang menjarah .