Wednesday, May 23, 2012

Perahu Kertas dengan Banyak Lipatan : Resensi


Perahu Kertas dengan Banyak Lipatan



                Pertama kali melihat sampul buku ini , mirip dengan teenlit-teenlit koleksi saya . Kasarnya , buku ababil . Agak aneh sebenarnya . Kata Mr. Mocca , Dee hampir setipe dengan mahaguru saya , Djenar . Apa iya di balik sampul teenlit ini tersimpan ‘cerita ranjang’ juga ?
Ternyata Dee membuat saya benar-benar percaya , bahwa ‘don’t judge the book from the cover’ itu benar meskipun ternyata memang tanpa ‘cerita ranjang’ .
Memang , gaya bertutur Dee di Perahu Kertas agak berbeda dengan gayanya saat menelurkan Madre , Supernova , atau Rectoverso . Lebih membuat kecepatan membaca saya bertambah tanpa perlu banyak mengulang beberapa kalimat yang rumit tidak seperti saat Madre menemani malam-malam saya.
Perahu Kertas , sesuai judulnya , mempunyai banyak lipatan-lipatan pada setiap bagiannya . Tokoh utamanya , Kugy dan Keenan , seperti ada pada sisi kertas yang berbeda . Ketika di lipat , menjadi perahu kertas , keduanya tidak bertemu . Tapi masing masing bisa merasa , bahwa mereka saling melengkapi , dan ditakdirkan untuk bersama.
Kugy tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan keenan , seorang seniman , akan menjadi rumit . Kugy yang cuek , ternyata diam-diam jatuh cinta kepada Keenan . bahkan mungkin bukan sekedar jatuh cinta , tapi cinta mati . Karena banyak yang harus ia korbankan . Perasaan pacarnya , sahabatnya , juga dirinya sendiri .
Keenan yang bahkan tak menyangka bahwa perasaan anehnya ketika bertemu Kugy ‘kecil’ akan berlanjut dengan perasaan-perasaan anehnya yang lain ketika ia harus berpisah dengan Kugy tanpa tahu bahwa Kugy sangat mengharapkannya .
Kisah cinta yang sebenarnya umum namun disampaikan secara khusus , membuat buku ini terasa istimewa . Dengan setting keluarga seniman Bali , menambah nilai plus pada buku ini .
Secara keseluruhan , buku ini mampu membuat saya melayang dan bermimpi tentang cinta yang rumt , meski tanpa ‘cerita ranjang’ .




Tuesday, May 8, 2012

DEJAVU



DEJAVU
(jember , 8 Mei 2012 . Pertarungan ke lima)

Samar , menari diatas angin .
Seperti terbang bersama kapas-kapas awan .
Kenanglah !
Ini nyata !
Ini ilusi ?
Ini ilusi ?
Ini ilusi ?
Ilusi ?
Kenangan !
Kenangan !
Kenanglah ..

Aku bermimpi sedang memimpikan mimpi .



Kunang-kunang , Kening , dan Kenangan


Kunang-kunang , Kening , dan Kenangan
Jember , 8 Mei 2012 . Pertarungan tunggal . Tanpa Musuh . Dengan umpan .


Apa beda kunang-kunang , kening , dan kenangan?

Kunang-kunang ,
Kata orang , dulu mereka adalah kuku-kuku yang hidup menyertai manusia . Ketika manusia mati, menjelmalah menjadi kunang-kunang .
Kehadirannya , semasa ada , di sanjung , setelah tiada , tetap menjadi sanjungan karena keindahannya .

Kening ,
Bagian tubuh yang paling romantis . Terbukti dari banyak film yang menampilkan tokoh utama pria mencium kening wanitanya .
Kehadirannya , semasa ada , di sanjung , setelah tiada , dilupakan . Mana ada yang mau mencium kening bangkai ?

Kenangan ,
Partikel-partikel kecil yang berisi rekaman hidup dari yang indah sampai suram .

Ia selalu ada , meski inang nya telah tiada . Selalu dipuja meski kehadirannya sering menyulut emosi .Tak ada yang bisa melenyapkan , meski waktu terus beringsut menjauh . 



Saturday, May 5, 2012

CERMIN oleh Mr. Mocca


CERMIN
(Mr.Mocca dalam pertarungan pertama)

Akulah cermin: datanglah padaku
datanglah padaku akan kutunjukkan bagaimana dirimu.
Datanglah dan lihat hitam putih dirimu.

Bagaimana engkau akan berdusta pula?
--akan selalu kusiapkan bayangan untuk dirimu.

HILANG oleh Mr. Mocca


HILANG
(Mr.Mocca dalam pertarungan kedua .)

Aku tak pernah berpikir, karena aku selalu takut ketika akan menghadapi rasa kehilangan orang yang aku sayang.

Dan aku tak pernah merasakannya. Membayangkan pun aku takut.
Aku takut, aku kesepian, kutetapkan hati, kukuatkan, kutabahkan.
Saat kengerian pekikan suara-suara kematian,

keluhan, isakan, aku tak tahan. Karena aku terlalu sayang.
Tuhan,
ini bukan pilihan,
ini ketetapan.
Maka kuatkan,
karena ku tau,

Kau mempunyai kemungkinan.

TIMBA


TIMBA
Jember, 4 Mei 2012 . Prosa tunggal .

Ia selalu bersumpah , padaku . Dengan berlutut dan. meremas jari jariku .

"Aku mencintaimu seperti timba mencintai air ,"

Aku mengernyit . Tak mengerti . Ratusan hari kulalui dengan buku buku filsafat setebal sol kaum bangsawan eropa namun seringkali aku tak menjangkau tiap makna yang mengalir dari setiap kata yang dia ucapkan dan gumamkan .

"Timba tak pernah berkhianat meski dikhianati air . Tak serta merta pecah meski berkubik-kubik air mengisi tiap rongga tubuhnya . Memeluk tiap tetes air yang jatuh dari keran dan mencipta suara yang serupa nada cinta . Hingga suatu hari air memilih pergi bersama gayung , Timba tak pernah protes atau menolak untuk mendekap tetes-tetes air lagi ,"

Aku terkesima .
"Tapi aku bukan air , aku tidak akan meninggalkanmu,"protesku .
Ia tertawa . Matanya meruncing , serupa suneo . Tahu kan ?
"Aku harap," sahutnya .

Tentu . Jawabku . Dalam hati .



SINGGAH


SINGGAH
(karena rindu selalu mampir melepas lelah )
Probolinggo-Jember, 3 Mei 2012 . Prosa tunggal .

Rembulan duduk di pojok kafe sembari bersandar pada dinding rotan yang mulai berdebu . Mengebul . Cerutunya mengebul . Bibirnya menghitam . Terlalu banyak beradu dengan bibir bibir di ranjang. Juga bibir bibir keriput istri lelaki-lelaki dengan bekas bibir merah-hitam Rembulan di saputangannya.  Pelayan menambah sedikit bir dalam gelas di hadapannya . Sekali teguk . Kosong .
"Minta kertas," katanya .
Pelayan yang bersiap menambah bir di gelasnya lagi , pun terpaksa mengganti cepat cepat program perintah di otaknya dari menambah bir menjadi mengambil kertas . Secepat kilat .
"Tulis ," rembulan menunjuk pelayan dan kertas bergantian .
Pelayan meraih bolpoin di saku baju kerja nya , meletakkan ujungnya di kertas , tanpa menumpahkan setitik tinta di kertas itu .
"Tuliskan ....,"


@@@@


"Singgahlah , rembulan ," sapaan lembut lelaki bersuara parau itu menjadi sapaan pertama yang rembulan dapatkan di jakarta .
Rembulan , gadis perantauan dari kampung .seperti lazimnya gadis-gadis lain yang mengadu nasib-entah beradu nasib dengan siapa-di jakarta .
"Ayo ," desak lelaki itu .
"Aku tidak ingin singgah , aku ingin bekerja ,"
Lelaki itu tertawa dengan suaranya yang parau seperti terkekeh-kekeh .
"Singgahlah dulu , kau akan tahu pekerjaan apa yang pas untuk lulusan SMP sepertimu ,"
RINDU CAFE . Begitu tulisan yang terpampang pada bangunan di depan Rembulan . Ragu , ia mengikuti lelaki bersuara parau masuk ke dalam cafe .
Dan ia tak lagi bisa keluar .
Tersesat . Gelap mata . 

@@@


"Cintai aku. Kumohon,"
"Tidak akan,"
"Kenapa?"
"Kamu tidak suci,"
"Brengsek . Kamu menyuruhku singgah disini, beginilah aku ,"
"Aku hanya menawarimu . Keputusan semua di tanganmu,"
"Anjing,"
"Babi,"
"Monyet,"
"Pelacur,"
"Aku cinta kamu,"
"Pelacur,"
"Aku cinta kamu,"
"Pelacur,"
"Nikahi aku,aku hamil,"
"Apa?"
"Anakmu,"
"Sinting !!!"
"Aku serius !"
"Sinting !!ASU !! "
@@@


Pelayan meraih bolpoin di saku baju kerja nya , meletakkan ujungnya di kertas , tanpa menumpahkan setitik tinta di kertas itu .
"Tuliskan ....,"
Rembulan terdiam agak lama.
"Tenanglah di sana , janinmu aman di rahimku . Ayah . Titip salam untuk ibu , di neraka ," 





ROH


ROH
Situbondo, 5 mei 2012 . Pertarungan prosa ketiga.
(Ketika lupa metode pertarungan .)

Sudah mampus , sudah mati .
Melayang-layang kesana kemari .
Memecah sunyi , memekik ngeri .
Kemana harus pergi ?
Ketika kaki tak lagi menapak bumi

Harus berlari ?  Kemana ? Tak tau lagi .
Berharap Tuhan memilih jasad baru untuk diri .




ROH feat Mr.Mocca


ROH
Situbondo-Jember , 5 Mei 2012 . Pertarungan ke empat metode Djenar .
feat  Mr. MOCCA

Kenapa semua menjadi absurd?

Seolah hilang dan menghitam
Yang tak pernah diketahui. Menikmati. Tidak menikmati. Dibiarkan atau entah berlalu. Hidup yang tak hidup. Tak berharap untuk mati pula.

Melayang-layang kesana kemari .
Memecah sunyi , memekik ngeri .
Kemana harus pergi ?
Ketika kaki tak lagi menapak bumi

Aku selalu bilang, untuk diriku sendiri: "akulah layang-layang. Seolah terbang tapi terbeban"
sedang kalanya aku menjadi burung yang terbang tak bertujuan. Tak nampak rumah untuk singgah.
"kenapa?" tanyamu sesekali. Bukankah kamu tinggal putuskan saja keputusasaan sendiri?

Kamu tidak mengerti tentang beban , dan pilihan . Juga tentang kebebasan . Akupun ragu aku mengerti . Jalani saja , meski suatu saat mungkin angin bertiup terlalu kencang . Disitulah , keputusasaan .
Ah, kamu selalu berucap seolah memudahkan. Sederhana tapi tidak sesederhana.

"kenapa tak kau nikmati?" ujarmu.
Aku selalu merindu. Entah pada apa. Aku selalu memaki. Entah pada apa pula.
Aku layang-layang yang tak terbebaskan.
Tidak lepas , juga tidak tertahan .

"Perlu bantuan ?" Ujarmu lagi .
Sesungguhnya akupun tak tau apa yang harus diselesaikan . Dan haruskah ?
Aku bilang aku kehilangan rohku. Jiwaku. Entah kemana. Entah apa jadinya sekarang.

Kamu melihat dengan tatapan nanar. Seolah aku pesakitan yang patut dikasihani.
Kemana jiwamu?
Harus dicari kemana ?
Tak berdaya aku. Seakan dikebiri waktu .

Hidup yang tak hidup. Bebas tapi tak terbebaskan.
Bukankah aku pesakitan yang patut dikasihani, menurutmu.
Astral yang asal , desismu . Serupa ejekan yang mengandung unsur kasihan .

Kemana rohku? Kemana jiwaku?






           

KUSEBUT ENGKAU SEJATI


KUSEBUT ENGKAU SEJATI
Jember, 3 Mei 2012 , Pertarungan tunggal .

Karena cinta tak pernah mengaharap balas , aku sebut engkau , sejati .

Memang tidak sempurna , tapi engkau melengkapi .
Seperti kopi di pagi hari , membuat rona merah di pipi , uap panas di hidung . Begitu mempesona .
Mengenalmu , begitu riuh , begitu mejikuhibiniu .
Kontras dengan Langit kita yang putih abu-abu .

Selalu ada semburat merah di setiap senja , seperti kita saat bersama bersembunyi di bawah meja . Begitu rahasia , tanpa ada suara , sekadar menghindar dari matematika , fisika , juga kimia .
Aku mengenal cita cita , lewat setiap jabatan tangan , guyonan , dan tangisan yang tercipta lewat atau tanpa kata-kata . Seperti prosa yang mengalir tanpa kata , aku bukan apa apa, tanpa kita .

Kita sedang berjalan meniti setiap jalan terjal , teruslah bergandengan . Jangan lepas . Meski berbeda muara , bukankah kita tetap pada satu tujuan ? Kehidupan .

Aku mencintaimu , tanpa syarat . Karena aku memanggilmu , kawan . Aku , kamu , kita , kawan .





HILANG


HILANG
Jember, 4 Mei 2012 . Pertarungan Prosa Kedua

Dear lelaki yang tak bosan menjadi bunga tidurku,
 Ini hari ke 1.258 sejak aku menyimpan nomormu di ponselku . Juga hari ke 2.387 sejak aku mulai melepas logikaku , agar tak selalu mengganggu ku dengan pertanyaan "how?" , "what?" Atau "why?" Ketika dengan sengaja aku mengintaimu , hampir setiap hari . 

Gila . Ya , aku . Siapa yang melarang ? Bahkan ketika tiap hari kuputar salah satu lagu lawas sheila on 7 , "pemuja rahasia" , kucing sebelah tetap mendengkur , tak bergeming . Mengapa manusia protes ? Bukankah manusia lebih "masa bodoh?"
Aneh ya , perasaanku tak pernah sedikitpun berubah , atau hilang . Bahkan makin menggila . Seperti.. Kanker . Merasakah kau ? Tentu tidak . Seratus buatku .

Menolehlah padaku, sesekali . Bukankah sendi di lehermu sangat sempurna untuk diputar ke kanan atau ke kiri sedikit saja ? Aku tidak dibelakangmu , aku disampingmu , tidak susah kan ?
Terkadang , sesuatu yang belum menjadi milikmu , akan selalu kau awasi , seperti obsesi . Padahal , sesuatu yang tersedia untukmu , kapan saja , bisa saja hilang , jika kau sama sekali tak menyadari keberadaannya .

Suatu saat , aku akan hilang , tertinggal oleh langkahmu yang semakin berambisi , jika kau tetap tak pernah menoleh padaku . 



CERMIN


CERMIN
Jember ,3 mei 2012 . Pertarungan prosa pertama .

Aku suka bercermin .
Cermin memantulkan bayangan diriku . Imaji fiktif serupa aku  terpantul indah tanpa cacat . Matanya .. Hidungnya .. Bibirnya .. Sungguh mengagumkan .

Sempurna , itulah aku . Aku selalu mengagumi bayanganku . Apapun yang aku lakukan , ia lakukan . Tertawa , menangis , marah .. Apapun yang aku rasakan , ia juga merasakan . Menjagaku ketika aku terlelap , juga ia lakukan . Buktinya , setiap pagi , di sisi cermin pasti dia ada , dengan rambut acak acakan dan mentega di sela sela gigi .

Aku mencintai diriku , mencintai bayanganku .

Bayangan tak pernah berkhianat , tak pernah pergi . Sejati . Tanpa haus diberi , meski tak bisa memeluk , memagut . Jujur merefleksikan diri , menelanjangi diri dengan apa adanya .
Hingga nanti , ketika berjuta cermin tak lagi bisa memantulkan imaji diri .