Tuesday, December 25, 2012

PADAM

 
PADAM
Situbondo, 25 Desember 2012


Diam                               Diam     
Suram                            Suram
Redam                          Redam
Dendam                      Dendam                
             
                PADAM

Dendam                      Dendam
Redam                          Redam
Suram                            Suram
Diam                               Diam





TRUST, ME. ( Hopefully ) IT'S WORK.

Situbondo, 25 Desember 2012


TRUST, ME. ( Hopefully ) IT'S WORK.



Katanya aku punyamu
Tapi kenapa kamu masih meragu?

Katanya aku segalanya
Tapi kenapa kamu masih bertanya, cintaku untuk siapa?

Katanya aku itu satu-satunya
Tapi kenapa kamu selalu curiga?

Katanya aku selalu ada dihatimu
Tapi kenapa kamu selalu tanya "kamu dimana? dengan siapa?" padaku ?

Ah, kamu.



Friday, December 21, 2012

KERETA (1)

Malang, 21Desember 2012


KERETA (1)


Kereta merambat.
Cintamu melambat.
Aku terjerat.
Kilat.







BAKAR

Malang, 21 Desember 2012


BAKAR

Aku terbakar.
Kau membakar.
Rindu terkapar.
Menggelepar.






Wednesday, September 19, 2012

waktu

hanya masalah waktu , pikirku .
tak sesederhana itu,katamu .
lalu bagaimana kusederhanakan semuanya ?

aku lelah mendahuluimu .
tak bisakah kita menjajarkan langkah ?
sudah lama bahu kita tak berdampingan .

itu hanya masalah waktu .
suatu saat aku tak lagi menoleh padamu .




Saturday, July 21, 2012

ABQUOTE #1




"Terlalu banyak hal yang terlupa di kehidupan ini tanpa kita sadari . Melewatkan, terlewatkan. Melupakan , terlupakan . Seperti saat kita lupa , ada banyak hari yang terlewatkan sia-sia. Betapa penyesalan selalu datang pada bagian epilog . Tapi , kesempatan , akan selalu ada membuat prolog-prolog baru dengan berbagai penyempurnaan ."



TENTANG MATAHARI ( Cerbung )


TENTANG MATAHARI
Cerita Bersambung .



Hujan masih setia mencabuti titik-titik air dari ranting-ranting pohon komulus nimbus yang menghitam. Sesekali gemuruh petir mengintip dari sela-selanya yang menghitam, kemudian menghujam tanah yang kewalahan menadah jutaan titik air yang jatuh semakin cepat. Katak hijau melompat-lompat kegirangan sambil mulutnya berteriak seakan membaca mantra di musim penghujan.

Aku sendiri masih menanti matahari yang tak kunjung datang dengan membawa sekeranjang bunga kering yang gersang akibat terlalu lama berada di dekatnya. Aku berharap saat lonceng berbunyi dua belas kali nanti –saat dua tangan kurus kerempeng jam dinding bergerak dan terdiam di angka dua belas- matahari mengayuh sepedanya mendekati rumahku. Kemudian ia buru-buru mengetuk jendelaku, dan masuk melalui celah kecilnya. Dan seperti biasanya, ia akan menggangguku yang asyik menghirup aroma kopi hitam favoritku. Ah, fatamorgana yang indah.

Kopi. Air Hitam yang manis, meski kadang pahit –saat aku lupa membubuhkan sedikit gula diatasnya. Aku tak pernah mengaduknya dengan sendok. Aku selalu mengganggu ketenangan air hitam itu dengan jariku. Jorok? Terserah. Yang pasti aku hanya membiarkan jari-jariku bergumul mesra dengan legit dan pahitnya, menjejalkan semua jenis cacing-cacing di kukuku yang menghitam. Dan membagi setiap jejak kenanganku, tentang matahari, padanya, pada air hitam.
Kadang-kadang aku merasa konyol, membagi kenangan dengannya, yang kemudian , raganya –air dan ampasnya-,bersatu kembali dengan ragaku, melewati lorong-lorong gelap dan sempit antara kerongkongan dan usus,sampai anus. Dan lagi, kenangan tentang matahari yang tak pernah usai bermetamorfosis dengan sempurna di setiap jengkal tubuhku, merobek-robek kepercayaanku tentang teori-teori astronomi yang mengatakan bahwa matahari tidak mengitari,tapi menjadi pusat semua pergerakan di jagad raya. Yang aku tahu, matahari yang aku kenal selalu berputar tanpa arah , terhempas angin di ujung kemarau yang panjang.Juga, mematahkan keyakinanku pada teori geografi tentang rentang bulan dimana matahari bersinar lebih kuat. Yang aku tau, dua tahun ini, sinarnya hilang terempas musim penghujan yang panjang.

Aku ingat, malam itu, dua tahun lalu,di ujung musim kemarau. Matahari mengetuk jendelaku dengan tergesa. Ia menyuruhku keluar. Belum sempat berkata-kata, Matahari menarik tanganku dan mengajakku duduk di bawah pohon beringin besar yang akarnya menjalar bagai tangan-tangan yang menggapai-gapai tanah.
Nafasnya tersengal, akibat berlari tadi. Matahari, selalu punya cara yang beda.
Angin malam di musim kemarau,menusuk-nusuk hingga ke tulang. Debu dan butiran pasir berebut masuk atau sekedar mengintip ke dalam celah retina.
Matahari mulai duduk dan bersandar. Aku mengikuti. Ia menengadah, sambil terpejam. Seakan menikmati hantaman angin musim kemarau di wajahnya. Kemudian ia merentangkan tangan, hampir mengenai wajahku.
“Rasakan.Rasakan angin musim kemarau ini,”ujarnya.

-- bersambung --




KILOMETER

KILOMETER
Situbondo , 21 Juli 2012 . Sajak tunggal .

Menertawakan kerinduan .
Menghabiskan kesunyian .

Terlalu sore untuk ku katakan Aku Rindu
Beribu kilometer menertawakan aku yang sendu
Apa Maumu ?

Tak bisakah kau menurunkan satuan mu , kilometer ?

-Untuk lelaki yang selalu kudoakan berada se-milimeter mungkin dengan lenganku-




BASAH

BASAH
Situbondo , 21 Juli 2012 . Prosa tunggal



Bisakah detak berhenti sejenak ?
Sekedar berpijak pada tangkai yang lunak

Adakah sedikit waktu untuk berfikir apa yang mengikir ?
Untuk kembali menjadi fakir tanpa harus pandai bersihir

Sudah , Berhentilah .
Tubuhku basah , terengah dikejar matahari yang menjarah .



Thursday, June 28, 2012

JAGA by Mr. Mocca


Pagi,
Jingga sudah nampak.
Sebentar matahari akan bergiliran mengiringmu.
Hingga ia akan terlelap lagi.
Sekarang, biarkan kulepas kantuk yang telah melolong dari tadi.
Hingga lelap menguasai
Aku janji. Nanti akan menjagamu kembali.
Selamat pagi, Pagi.

Tuesday, June 26, 2012

ABSURDITAS by Mr. Mocca

ABSURDITAS by Mr. Mocca
Jember , 26 Juni 2012 . Sajak tunggal  

Serasa ketidakjelasan yang mendekati kegilaan.
Akut.
memeliki beberapa yang banyak keping-yang berbeda-semua sisinya.
hanya untuk mendapatkan, apa itu arti.
berjalan-lagi. pada selanjutnya tidak pernah mendapati.
sesekali, berhenti. hanya untuk menoleh.
Menikmati yang dibelakang, yang dikiri, yang disamping kanan.
Apa yang diharapkan? ketidakjelasan yang benar-benar.
Apakah kau menikmatinya? tentu saja.

Friday, June 22, 2012

Cinta 24 Jam

CINTA 24 JAM
Situbondo, 22 Juni 2012 . Sajak tunggal.

Selamat pagi ,
Untukmu yang terlalu indah untuk terlihat buruk
Bagaimana tidurmu ?
Memimpikanku ?

Selamat siang ,
Untukmu yang terlalu teduh untuk disiangi matahari
Bagaimana aktivitasmu ?
Sepadat pikiranku tentangmu ?

Selamat sore ,
Untukmu yang se-jingga senja
Bagaimana harimu ?
Seindah bola matamu ?

Selamat malam,
Untukmu yang selalu membuat jagad raya iri ,
Bagaimana persiapan tidurmu ?
Sesiap diriku menjaga tidurmu malam ini ?

Selamat tidur , Kamu.

-Untuk kamu , yang pernah menjadi pusat dari setiap pergantian waktuku-



Bisakah Kau ?

BISAKAH KAU ?
Situbondo, 22 Juni 2012. Sajak Tunggal.


Bisakah kau menjadi mudah ?
Tak terlalu tinggi untuk ku jamah ?
Karena aku pasti terjatuh ketika berusaha menggapaimu

Bisakah kau menjadi pipih ?
tak terlalu bulat untuk ku dekap ?
Karena aku tak ingin kau menggelinding terlepas dari pelukanku 

Bisakah kau menjadi biasa ?
Tak terlalu indah untuk ku sanding ?
Karena aku takut kau diperebutkan yang lain

Bisakah kau menjadi hangat ?
Tak terlalu panas untuk ku hirup ?
Karena aku ingin menikmatimu tak tergesa 

Bisakah kau ?
Bisakah ?
Bisakah kau menjadikanku serba bisa untuk membuatmu bisa ?  

-Teruntuk , Lelaki yang terlalu serba bisa untuk membuatku bisa jatuh hati-



Musim Basi

MUSIM BASI
Situbondo , 22 Juni 2012 . Sajak tunggal


Inikah yang kau sebut sebagai musim yang telah basi ?
Ketika gugur daun tak lagi menunggu kuning 
Angin bertiup tanpa rasa
Awan yang menutup surya hidup-hidup 
Juga Bulan setengah penuh yang bersinar pasi

Seperti mereka - akupun telah mati 
Aku sudah terlalu lama menunggu
Tak adakah niat untuk memperbaiki ?

Dan kau masih saja termangu menunggu musim setelah ini 
Musim tak akan berubah , sebelum waktu 

Nikmati dan Resapi , 
Musim yang telah basi ,
Sebelum hujan kembali membasahi .


-untukmu , yang masih menunggu musim setelah ini-


Thursday, June 21, 2012

Gombal Satu-Satunya


GOMBAL SATU-SATUNYA
Situbondo , 21 Juni 2012 . Sajak tunggal .


Aku mencintai angka satu
Aku selalu memilih tunggal daripada dua
Aku hanya berbicara satu kali setiap satu menit
Tuhanku hanya satu
Tahi lalatku hanya ada satu , di telinga kiri
Selalu kupilih jalan yang hanya satu-satunya meski harus antre
Meski aku bisa membeli lebih dari satu , tetap , mobilku hanya ada satu
Tapi yang pasti ,
Hanya ada satu nama yang boleh mencuri hati ku yang satu – satunya ini ,
Kamu . Satu .









Tamparan Ibu


TAMPARAN IBU
Situbondo, 21 Juni 2012. Prosa tunggal .



            Ibuku selalu sayang padaku . Tak pernah sekalipun mencubit , memukul , atau menamparku . Bahkan ketika aku dengan sengaja pulang tengah malam , ibu masih menyayangiku . Juga ketika kandungan tanpa ayah ini mulai membesar , Ibu tidak memperlakukanku bak sinetron jaman sekarang .
“Mengapa Ibu tak pernah memarahiku ? “ tanyaku ketika itu .
“Tidak ada alasan untuk memarahimu ,”jawabnya .
“Aku sudah mencoba membuat ibu marah,” kataku .
“Kamu tidak berhasil,” tukasnya .
Aku menyerah .

            Hingga suatu hari ibu menamparku . Ku tanyakan alasannya .
“Mengapa akhirnya Ibu menamparku ?”
“Karena kau tak lagi berulah,”
“Bukankah bagus ?”
“Tidak bagiku ,”
“Mengapa?”
“Diriku tak lagi bisa kau banggakan sebagai Ibu Idaman yang selalu sabar sekalipun kau berulah,”

Ibu , selalu mengesankan , bahkan ketika menjadi bodoh.

-Ibu , aku mencintaimu-



Wednesday, June 20, 2012

Musim Galau

MUSIM GALAU
Situbondo , 19 Juni 2012 . Pertarungan tanpa musuh




Hujan masih rintik-rintik .
Dan kamu masih mengkritik , mengapa hujan selalu diawali titik-titik .

Separuh pelangi mulai mengawasi, warnanya makin bimbang dan pasi .
Beginilah , musim yang terlanjur basi .




Wednesday, May 23, 2012

Perahu Kertas dengan Banyak Lipatan : Resensi


Perahu Kertas dengan Banyak Lipatan



                Pertama kali melihat sampul buku ini , mirip dengan teenlit-teenlit koleksi saya . Kasarnya , buku ababil . Agak aneh sebenarnya . Kata Mr. Mocca , Dee hampir setipe dengan mahaguru saya , Djenar . Apa iya di balik sampul teenlit ini tersimpan ‘cerita ranjang’ juga ?
Ternyata Dee membuat saya benar-benar percaya , bahwa ‘don’t judge the book from the cover’ itu benar meskipun ternyata memang tanpa ‘cerita ranjang’ .
Memang , gaya bertutur Dee di Perahu Kertas agak berbeda dengan gayanya saat menelurkan Madre , Supernova , atau Rectoverso . Lebih membuat kecepatan membaca saya bertambah tanpa perlu banyak mengulang beberapa kalimat yang rumit tidak seperti saat Madre menemani malam-malam saya.
Perahu Kertas , sesuai judulnya , mempunyai banyak lipatan-lipatan pada setiap bagiannya . Tokoh utamanya , Kugy dan Keenan , seperti ada pada sisi kertas yang berbeda . Ketika di lipat , menjadi perahu kertas , keduanya tidak bertemu . Tapi masing masing bisa merasa , bahwa mereka saling melengkapi , dan ditakdirkan untuk bersama.
Kugy tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan keenan , seorang seniman , akan menjadi rumit . Kugy yang cuek , ternyata diam-diam jatuh cinta kepada Keenan . bahkan mungkin bukan sekedar jatuh cinta , tapi cinta mati . Karena banyak yang harus ia korbankan . Perasaan pacarnya , sahabatnya , juga dirinya sendiri .
Keenan yang bahkan tak menyangka bahwa perasaan anehnya ketika bertemu Kugy ‘kecil’ akan berlanjut dengan perasaan-perasaan anehnya yang lain ketika ia harus berpisah dengan Kugy tanpa tahu bahwa Kugy sangat mengharapkannya .
Kisah cinta yang sebenarnya umum namun disampaikan secara khusus , membuat buku ini terasa istimewa . Dengan setting keluarga seniman Bali , menambah nilai plus pada buku ini .
Secara keseluruhan , buku ini mampu membuat saya melayang dan bermimpi tentang cinta yang rumt , meski tanpa ‘cerita ranjang’ .




Tuesday, May 8, 2012

DEJAVU



DEJAVU
(jember , 8 Mei 2012 . Pertarungan ke lima)

Samar , menari diatas angin .
Seperti terbang bersama kapas-kapas awan .
Kenanglah !
Ini nyata !
Ini ilusi ?
Ini ilusi ?
Ini ilusi ?
Ilusi ?
Kenangan !
Kenangan !
Kenanglah ..

Aku bermimpi sedang memimpikan mimpi .



Kunang-kunang , Kening , dan Kenangan


Kunang-kunang , Kening , dan Kenangan
Jember , 8 Mei 2012 . Pertarungan tunggal . Tanpa Musuh . Dengan umpan .


Apa beda kunang-kunang , kening , dan kenangan?

Kunang-kunang ,
Kata orang , dulu mereka adalah kuku-kuku yang hidup menyertai manusia . Ketika manusia mati, menjelmalah menjadi kunang-kunang .
Kehadirannya , semasa ada , di sanjung , setelah tiada , tetap menjadi sanjungan karena keindahannya .

Kening ,
Bagian tubuh yang paling romantis . Terbukti dari banyak film yang menampilkan tokoh utama pria mencium kening wanitanya .
Kehadirannya , semasa ada , di sanjung , setelah tiada , dilupakan . Mana ada yang mau mencium kening bangkai ?

Kenangan ,
Partikel-partikel kecil yang berisi rekaman hidup dari yang indah sampai suram .

Ia selalu ada , meski inang nya telah tiada . Selalu dipuja meski kehadirannya sering menyulut emosi .Tak ada yang bisa melenyapkan , meski waktu terus beringsut menjauh . 



Saturday, May 5, 2012

CERMIN oleh Mr. Mocca


CERMIN
(Mr.Mocca dalam pertarungan pertama)

Akulah cermin: datanglah padaku
datanglah padaku akan kutunjukkan bagaimana dirimu.
Datanglah dan lihat hitam putih dirimu.

Bagaimana engkau akan berdusta pula?
--akan selalu kusiapkan bayangan untuk dirimu.

HILANG oleh Mr. Mocca


HILANG
(Mr.Mocca dalam pertarungan kedua .)

Aku tak pernah berpikir, karena aku selalu takut ketika akan menghadapi rasa kehilangan orang yang aku sayang.

Dan aku tak pernah merasakannya. Membayangkan pun aku takut.
Aku takut, aku kesepian, kutetapkan hati, kukuatkan, kutabahkan.
Saat kengerian pekikan suara-suara kematian,

keluhan, isakan, aku tak tahan. Karena aku terlalu sayang.
Tuhan,
ini bukan pilihan,
ini ketetapan.
Maka kuatkan,
karena ku tau,

Kau mempunyai kemungkinan.

TIMBA


TIMBA
Jember, 4 Mei 2012 . Prosa tunggal .

Ia selalu bersumpah , padaku . Dengan berlutut dan. meremas jari jariku .

"Aku mencintaimu seperti timba mencintai air ,"

Aku mengernyit . Tak mengerti . Ratusan hari kulalui dengan buku buku filsafat setebal sol kaum bangsawan eropa namun seringkali aku tak menjangkau tiap makna yang mengalir dari setiap kata yang dia ucapkan dan gumamkan .

"Timba tak pernah berkhianat meski dikhianati air . Tak serta merta pecah meski berkubik-kubik air mengisi tiap rongga tubuhnya . Memeluk tiap tetes air yang jatuh dari keran dan mencipta suara yang serupa nada cinta . Hingga suatu hari air memilih pergi bersama gayung , Timba tak pernah protes atau menolak untuk mendekap tetes-tetes air lagi ,"

Aku terkesima .
"Tapi aku bukan air , aku tidak akan meninggalkanmu,"protesku .
Ia tertawa . Matanya meruncing , serupa suneo . Tahu kan ?
"Aku harap," sahutnya .

Tentu . Jawabku . Dalam hati .



SINGGAH


SINGGAH
(karena rindu selalu mampir melepas lelah )
Probolinggo-Jember, 3 Mei 2012 . Prosa tunggal .

Rembulan duduk di pojok kafe sembari bersandar pada dinding rotan yang mulai berdebu . Mengebul . Cerutunya mengebul . Bibirnya menghitam . Terlalu banyak beradu dengan bibir bibir di ranjang. Juga bibir bibir keriput istri lelaki-lelaki dengan bekas bibir merah-hitam Rembulan di saputangannya.  Pelayan menambah sedikit bir dalam gelas di hadapannya . Sekali teguk . Kosong .
"Minta kertas," katanya .
Pelayan yang bersiap menambah bir di gelasnya lagi , pun terpaksa mengganti cepat cepat program perintah di otaknya dari menambah bir menjadi mengambil kertas . Secepat kilat .
"Tulis ," rembulan menunjuk pelayan dan kertas bergantian .
Pelayan meraih bolpoin di saku baju kerja nya , meletakkan ujungnya di kertas , tanpa menumpahkan setitik tinta di kertas itu .
"Tuliskan ....,"


@@@@


"Singgahlah , rembulan ," sapaan lembut lelaki bersuara parau itu menjadi sapaan pertama yang rembulan dapatkan di jakarta .
Rembulan , gadis perantauan dari kampung .seperti lazimnya gadis-gadis lain yang mengadu nasib-entah beradu nasib dengan siapa-di jakarta .
"Ayo ," desak lelaki itu .
"Aku tidak ingin singgah , aku ingin bekerja ,"
Lelaki itu tertawa dengan suaranya yang parau seperti terkekeh-kekeh .
"Singgahlah dulu , kau akan tahu pekerjaan apa yang pas untuk lulusan SMP sepertimu ,"
RINDU CAFE . Begitu tulisan yang terpampang pada bangunan di depan Rembulan . Ragu , ia mengikuti lelaki bersuara parau masuk ke dalam cafe .
Dan ia tak lagi bisa keluar .
Tersesat . Gelap mata . 

@@@


"Cintai aku. Kumohon,"
"Tidak akan,"
"Kenapa?"
"Kamu tidak suci,"
"Brengsek . Kamu menyuruhku singgah disini, beginilah aku ,"
"Aku hanya menawarimu . Keputusan semua di tanganmu,"
"Anjing,"
"Babi,"
"Monyet,"
"Pelacur,"
"Aku cinta kamu,"
"Pelacur,"
"Aku cinta kamu,"
"Pelacur,"
"Nikahi aku,aku hamil,"
"Apa?"
"Anakmu,"
"Sinting !!!"
"Aku serius !"
"Sinting !!ASU !! "
@@@


Pelayan meraih bolpoin di saku baju kerja nya , meletakkan ujungnya di kertas , tanpa menumpahkan setitik tinta di kertas itu .
"Tuliskan ....,"
Rembulan terdiam agak lama.
"Tenanglah di sana , janinmu aman di rahimku . Ayah . Titip salam untuk ibu , di neraka ," 





ROH


ROH
Situbondo, 5 mei 2012 . Pertarungan prosa ketiga.
(Ketika lupa metode pertarungan .)

Sudah mampus , sudah mati .
Melayang-layang kesana kemari .
Memecah sunyi , memekik ngeri .
Kemana harus pergi ?
Ketika kaki tak lagi menapak bumi

Harus berlari ?  Kemana ? Tak tau lagi .
Berharap Tuhan memilih jasad baru untuk diri .




ROH feat Mr.Mocca


ROH
Situbondo-Jember , 5 Mei 2012 . Pertarungan ke empat metode Djenar .
feat  Mr. MOCCA

Kenapa semua menjadi absurd?

Seolah hilang dan menghitam
Yang tak pernah diketahui. Menikmati. Tidak menikmati. Dibiarkan atau entah berlalu. Hidup yang tak hidup. Tak berharap untuk mati pula.

Melayang-layang kesana kemari .
Memecah sunyi , memekik ngeri .
Kemana harus pergi ?
Ketika kaki tak lagi menapak bumi

Aku selalu bilang, untuk diriku sendiri: "akulah layang-layang. Seolah terbang tapi terbeban"
sedang kalanya aku menjadi burung yang terbang tak bertujuan. Tak nampak rumah untuk singgah.
"kenapa?" tanyamu sesekali. Bukankah kamu tinggal putuskan saja keputusasaan sendiri?

Kamu tidak mengerti tentang beban , dan pilihan . Juga tentang kebebasan . Akupun ragu aku mengerti . Jalani saja , meski suatu saat mungkin angin bertiup terlalu kencang . Disitulah , keputusasaan .
Ah, kamu selalu berucap seolah memudahkan. Sederhana tapi tidak sesederhana.

"kenapa tak kau nikmati?" ujarmu.
Aku selalu merindu. Entah pada apa. Aku selalu memaki. Entah pada apa pula.
Aku layang-layang yang tak terbebaskan.
Tidak lepas , juga tidak tertahan .

"Perlu bantuan ?" Ujarmu lagi .
Sesungguhnya akupun tak tau apa yang harus diselesaikan . Dan haruskah ?
Aku bilang aku kehilangan rohku. Jiwaku. Entah kemana. Entah apa jadinya sekarang.

Kamu melihat dengan tatapan nanar. Seolah aku pesakitan yang patut dikasihani.
Kemana jiwamu?
Harus dicari kemana ?
Tak berdaya aku. Seakan dikebiri waktu .

Hidup yang tak hidup. Bebas tapi tak terbebaskan.
Bukankah aku pesakitan yang patut dikasihani, menurutmu.
Astral yang asal , desismu . Serupa ejekan yang mengandung unsur kasihan .

Kemana rohku? Kemana jiwaku?






           

KUSEBUT ENGKAU SEJATI


KUSEBUT ENGKAU SEJATI
Jember, 3 Mei 2012 , Pertarungan tunggal .

Karena cinta tak pernah mengaharap balas , aku sebut engkau , sejati .

Memang tidak sempurna , tapi engkau melengkapi .
Seperti kopi di pagi hari , membuat rona merah di pipi , uap panas di hidung . Begitu mempesona .
Mengenalmu , begitu riuh , begitu mejikuhibiniu .
Kontras dengan Langit kita yang putih abu-abu .

Selalu ada semburat merah di setiap senja , seperti kita saat bersama bersembunyi di bawah meja . Begitu rahasia , tanpa ada suara , sekadar menghindar dari matematika , fisika , juga kimia .
Aku mengenal cita cita , lewat setiap jabatan tangan , guyonan , dan tangisan yang tercipta lewat atau tanpa kata-kata . Seperti prosa yang mengalir tanpa kata , aku bukan apa apa, tanpa kita .

Kita sedang berjalan meniti setiap jalan terjal , teruslah bergandengan . Jangan lepas . Meski berbeda muara , bukankah kita tetap pada satu tujuan ? Kehidupan .

Aku mencintaimu , tanpa syarat . Karena aku memanggilmu , kawan . Aku , kamu , kita , kawan .





HILANG


HILANG
Jember, 4 Mei 2012 . Pertarungan Prosa Kedua

Dear lelaki yang tak bosan menjadi bunga tidurku,
 Ini hari ke 1.258 sejak aku menyimpan nomormu di ponselku . Juga hari ke 2.387 sejak aku mulai melepas logikaku , agar tak selalu mengganggu ku dengan pertanyaan "how?" , "what?" Atau "why?" Ketika dengan sengaja aku mengintaimu , hampir setiap hari . 

Gila . Ya , aku . Siapa yang melarang ? Bahkan ketika tiap hari kuputar salah satu lagu lawas sheila on 7 , "pemuja rahasia" , kucing sebelah tetap mendengkur , tak bergeming . Mengapa manusia protes ? Bukankah manusia lebih "masa bodoh?"
Aneh ya , perasaanku tak pernah sedikitpun berubah , atau hilang . Bahkan makin menggila . Seperti.. Kanker . Merasakah kau ? Tentu tidak . Seratus buatku .

Menolehlah padaku, sesekali . Bukankah sendi di lehermu sangat sempurna untuk diputar ke kanan atau ke kiri sedikit saja ? Aku tidak dibelakangmu , aku disampingmu , tidak susah kan ?
Terkadang , sesuatu yang belum menjadi milikmu , akan selalu kau awasi , seperti obsesi . Padahal , sesuatu yang tersedia untukmu , kapan saja , bisa saja hilang , jika kau sama sekali tak menyadari keberadaannya .

Suatu saat , aku akan hilang , tertinggal oleh langkahmu yang semakin berambisi , jika kau tetap tak pernah menoleh padaku . 



CERMIN


CERMIN
Jember ,3 mei 2012 . Pertarungan prosa pertama .

Aku suka bercermin .
Cermin memantulkan bayangan diriku . Imaji fiktif serupa aku  terpantul indah tanpa cacat . Matanya .. Hidungnya .. Bibirnya .. Sungguh mengagumkan .

Sempurna , itulah aku . Aku selalu mengagumi bayanganku . Apapun yang aku lakukan , ia lakukan . Tertawa , menangis , marah .. Apapun yang aku rasakan , ia juga merasakan . Menjagaku ketika aku terlelap , juga ia lakukan . Buktinya , setiap pagi , di sisi cermin pasti dia ada , dengan rambut acak acakan dan mentega di sela sela gigi .

Aku mencintai diriku , mencintai bayanganku .

Bayangan tak pernah berkhianat , tak pernah pergi . Sejati . Tanpa haus diberi , meski tak bisa memeluk , memagut . Jujur merefleksikan diri , menelanjangi diri dengan apa adanya .
Hingga nanti , ketika berjuta cermin tak lagi bisa memantulkan imaji diri .