Monday, January 18, 2016

Baby Sitter Berwujud Gadget

http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/
 Jangan heran kalau sering kita temui anak-anak memakai kacamata. Ketika ditanya minus berapa, jawabannya membuat kita tercengang. Bahkan anak usia enam tahun minusnya lebih tinggi daripada orang dewasa. Mungkin fenomena tersebut telah banyak kita temui di kehidupan saat ini. Kalau pada jaman kita dahulu anak-anak selalu bermain tanah, airhujan, petak umpet, sepakbola, tidak bagi anak sekarang. Tinggal di kompleks perumahan yang tak lagi memiliki akses bermain yang cukup, membuat anak lebih memilih untuk bermain gadget. Sepanjang hari, sepanjang malam, anak-anak tak lepas dari handphone. Entah menonton kartun atau bermain games. Nah, pemakaian handphone ini adalah sesuatu yang krusial dalam pengawasannya. Tentu sebagai orang tua, apalagi yang bekerja, mengawasi anak selama 24 jam hampir mustahil. Kadangkala rasanya seperti makan buah simalakama. Diawasi, tapi konsekuensinya pekerjaan menumpuk. Tidak diawasi, bisa jadi anak tiba-tiba mengklik situs yang tidak seharusnya. Apalagi, tidak banyak orang tua yang paham bagaimana mengatur akses handphone bagi anak. Saat ini juga tiba-tiba sering muncul iklan popup yang memungkinkan untuk pengguna langsung mengakses konten dewasa.
Sebuah situs mengatakan bahwa pengakses situs dewasa 60% diantaranya adalah anak-anak berusia kurang dari 11 tahun. Mengapa anak-anak? Menurut para ahli, usia anak-anak merupakan usia yang gemar sekali mencari hal-hal baru. Rasa penasaran yang ada di diri mereka akan terus berkembang. Memang, anak yang memiliki rasa penasaran yang tinggi merupakan anak yang cerdas. Tapi, tentu saja rasa penasaran itu harus ada pada tempatnya. Sebagai orang tua, tentu khawatir bukan, ketika rasa penasaran itu tidak digunakan pada tempat yang semestinya? Acer menjawab semua kekhawatiran orang tua. Baru-baru ini, Acer mengeluarkan produk barunya yang diperuntukkan untuk pengguna usia anak-anak. Acer Liquid Z320 hadir untuk membantu orang tua mengawasi putra-putrinya saat bermain handphone. Dengan membenamkan fitur aplikasi Kids Center, yakni panduan multimedia untuk anak-anak mulai dari belajar, musik, video, kartun, dan akses web yang sesuai dengan umurnya, orang tua bisa merasa lebih tenang ketika anak memainkan ponsel. Anak-anak pengguna Acer Liquid Z320 ini tidak bisa mengakses konten dewasa tanpa seizin orang tua.
Khawatir dengan mata anak-anak yang rawan minus karena terlampau sering memainkan handphone? Ternyata Acer mampu menjawab kekhawatiran orang tua dengan hal yang satu itu. Acer Liquid Z320 ternyata memiliki teknologi Blue Light Shield, sebuah aplikasi yang membuat pengguna dapat mengontrol banyaknya cahaya biru yang muncul pada layar ponsel. Kadar cahaya biru yang lebih sedikit dapat menanggulangi efek buruk dari paparan cahaya layar meskipun pengguna berada berjam-jam di depan handphone.
Jika pengawasan orang tua telah terbantu dengan adanya Acer Liquid Z320 ini, maka sekarang saatnya orang tua memaksimalkan waktu yang ada bersama anak untuk berbincang banyak hal. Kebanyakan orang tua lupa bahwa teman sejati anak bukanlah televisi atau handphone, tapi orang tuanya. Meskipun anak terlihat asyik dengan handphonenya, jika memiliki waktu kosong, hendaklah orang tua meminta anak untuk duduk di pangkuannya, lalu bertanya pada anak-anak apa yang terjadi di sekolah hari ini, atau apa yang ingin mereka lakukan di akhir pekan ini. Buatlah anak-anak tetap pada dunianya, jangan paksa anak anda mengikuti dan selalu memaklumi kesibukan anda. Sesungguhnya kebahagiaan orang tua adalah melihat dan mengikuti seluruh perkembangan anak. Secanggih apa gadget yang diberikan pada anak, kasih sayang orang tua tetap gadget yang paling ditunggu oleh mereka.
#AcerIndonesia #SmartphoneAcer #AcerLiquidZ320

Friday, November 7, 2014

ADA YANG MENUNGGUMU DI UJUNG LORONG INI

Suatu hari yang lampau,
Kita saling melepas gandengan.
Saling meletakkan senyum dan tatap mesra.

Bahkan kita saling mencipta kata yang menyakiti telinga
Saling menikam hingga membuncahlah darah

Aku berjalan lebih jauh didepanmu.
Meninggalkan kamu yang terseok
Aku tak lagi menoleh
Kau mengira aku terlampau sombong untuk menoleh

Suatu hari kemudian setelah hari yang lampau,
Aku berdiri di ujung lorong ini.
Berbalik, menatapmu.
Mengawasi setiap langkahmu.
Aku berdiri menunggu tangan dan jemari berkait.
Menunggu senyum dan tatap mesra kembali dipakai.

Namun hidup, sayangku, seperti hujan bulan November.
Selalu berubah.

Engkau telah mengaitkan jari padanya.
Engkau telah menyematkan senyum pada bibir selain aku.

HUJAN NOVEMBER

Aku merindukan kamu.
Kamu yang dulu pernah mengajakku bergandengan tangan menerobos hujan di bulan november.
Kamu yang dulu menepi sejenak untuk memasangkan mantel.
Kamu yang dulu rela basah kuyup demi menahan tempias air hujan agar tak mengenaiku.

Jika November ini tak lagi sama,
Bolehkah sejenak kukenang dingin yang pernah membuat lenganmu memelukku?

Dan jika memori ini telah hilang pada ingatmu,
Bolehkah sejenak kutitipkan rindu pada langit yang menangis ?

Tak akan ada yang sama.
Hujan ini,
Maupun kamu.

Teruntuk, kamu yang kutemui (lagi) pada Hujan bulan November.

Sunday, July 13, 2014

EPILOG

EPILOG

Seperti kemarau yang diakhiri hujan
maka kemudian kisah demi kisah akan jua bertemu akhir
Akan jua bertemu titik
dan tak lagi peduli koma.

Sampailah sang perempuan dalam kalimat terakhirnya.
Pada ujung setiap terik doanya.
Pada ujung geram yang tak tersampaikan jua.

Bilamana hujan akhirnya berhenti pula,
maka sang perempuan berkaca pada sahara,
Bagaimana rupa ?





Wednesday, June 25, 2014

Berlari


BERLARI

Hati memiliki cara tersendiri untuk mengobati lukanya.
Bertahan atau pergi.

Aku telah melakukan keduanya.
Bertahan untuk sebuah alasan yang tak rasional; enggan melupakan.
Enggan membuat segala yang indah berlalu begitu saja menjadi kenangan.
Enggan melukai diri sendiri dengan melihat segala yang telah dilakukannya padamu, pada akhirnya ia lakukan untuk orang lain.
Suatu hari, aku memilih pergi.
Memilih untuk mengambil hati yang pernah kutitipkan untuk kubawa berlari.
Berlari sekuat yang aku mampu.

Saat ini aku berhenti berlari.
Sedikit mengenang apa yang telah terlewati.
Hingga aku lupa, bahwa aku seharusnya terus berlari.
Hingga aku lupa bahwa berlari itu ke depan, bukan ke belakang.
Jangan membuatku ingat bahwa aku harus berlari.
Karena menuju titik dimana kita dipertemukan adalah hal yang paling manis yang pernah kutemui.



Sunday, May 18, 2014

Pahlawan Berkumis Tebal

Pahlawan Berkumis Tebal

Situbondo, 18 Mei 2014 22:20


Setelah membaca ini, saya yakin kamu langsung jatuh cinta pada Bapak saya.

Saat menulis ini, beliau sedang ada di belakang saya, membetulkan helm sehabis membantu saya membetulkan wi-fi di rumah.
Jika dibilang sosok Bapak adalah sosok tokoh idola, dulunya saya mengelak. Satu-satunya tokoh idola saya adalah Ibu atau biasa saya sebut Mama.
Memang, Nabi Muhammad saja mengatakan Ibu sebanyak tiga kali baru kemudian ayah, ketika ditanya siapa saja yang patut kita hormati.
Namun, sejak beberapa bulan ini saya baru menyadari, bahwa tokoh idola saya bertambah. Bapak.

Saya akui , saya bukan orang yang pandai bermanis-manis pada orang tua. Keluarga saya pun begitu. Kami sekeluarga tidak pandai mengekspresikan sayang antar satu sama lain. Namun, sekaku-kakunya saya, saya juga seorang anak perempuan biasa. Saya lebih dekat dengan Mama daripada Bapak. Dulu sekali, saya pernah akrab dengan Bapak. Sudah lama sekali. Bapak mencium pipi saya terakhir ketika saya naik kelas 4 SD. Mungkin Bapak menyadari putrinya sudah tumbuh dewasa.

Bapak saya adalah seorang yang keras. Bapak tak segan memarahi saya ketika nilai saya menurun. Bahkan melarang saya pergi meski saya sudah meminta izin dengan beribu alasan. Saya sempat membenci sifat keras Bapak. Bahkan parahnya, saya pernah menulis di buku harian, andai Bapak tidak ada, tentu saya akan bebas pergi kemana-mana. Begitu tulis saya dulu.
Jika saya boleh memutar waktu, saya tidak akan melawan Bapak dan menulis hal buruk tentang Bapak di buku harian saya dulu.
Seandainya saya tahu, begitu sayangnya Bapak pada saya, saya akan menghapus tulisan saya dulu dan menggantinya dengan “Saya sayang Bapak”.
Perasaan saya yang dulu ala kadarnya pada Bapak, setelah kejadian beberapa bulan lalu, berubah seratus persen. Saya tergila-gila pada Bapak. Saya merasakan keharuan luar biasa pada sosok Bapak. Air mata saya spontan mengalir ketika saya menuliskan bagian ini.

Bapak kecewa pada saya.

Bapak pernah memimpikan saya kuliah kedokteran atau paling tidak bukan sastra indonesia seperti apa yang saya pilih sekarang.
Bapak sangat berharap saya dapat membahagiakan keluarga seperti Kakak-kakak sepupu saya yang dibanggakan oleh Bude-bude saya ketika pertemuan keluarga.
Saya paham betapa kecewanya Bapak ketika saya memutuskan kuliah di jurusan yang saya sukai.

Yang membuat saya merasa bersalah pada Bapak dan memasukkan Bapak di dalam daftar idola saya, adalah, Bapak tidak pernah menunjukkan rasa kecewa Bapak di depan saya. Bahkan jika Mama tidak memberi tahu saya tentang hal ini beberapa bulan lalu, saya mungkin masih berpikir bahwa bapak adalah satu-satunya orang yang mendukung saya berada di pilihan saya saat ini. Bapak selalu membanggakan saya di depan teman-temannya yang sok memamerkan anaknya yang berkuliah di ITS , IPDN dan sebagainya. Entah, Bapak hanya ingin membuat saya tetap percaya diri atau bagaimana. Saya terlampau takut untuk mengira-ngira.

Air mata saya menetes lagi. Ah, Bapak.
Pahlawan berkumis saya.

Sejak saya kuliah dan tinggal jauh dari rumah, Bapak semakin perhatian pada saya. Dulu, Bapak yang selalu melarang saya. Sekarang, Bapak yang membebaskan saya dari segala larangan Mama. Bapak yang pendiam selalu memberikan hal-hal tak terduga pada hidup saya.

Suatu hari, saya merengek minta tablet keluaran terbaru. Susah sekali rasanya mendapatkan kepercayaan dari Mama untuk membelikannya. Di keluarga saya, selalu diajarkan untuk tidka mudah memperoleh sesuatu. Mendapatkan apapun, harus dengan kerja keras. Untuk mendapatkan Tablet itu, saya harus kerja keras. Saya berusaha untuk ikut lomba menulis dimana-mana. Tapi hasilnya nihil. Saya kembali merengek pada Mama dan Bapak. Mama tetap melarang. Saya merasa pupus sudah harapan saya untuk asik-asikan instagraman dengan tablet keluaran terbaru itu.

Esok harinya, rasanya saya ingin melompat gembira ketika Bapak mengirim pesan singkat berisi,

“Tabnya mau tipe apa?”

Kamu pasti iri dan ingin punya Bapak seperti Bapak saya.

Tapi Bapak cuma punya saya.

Oh, Ya, diam-diam, Bapak memperhatikan dan menilai lelaki yang dekat dengan saya. Secara naluri bawah sadar pun, saya memilih lelaki yang sedikit banyak mirip dengan Bapak. Bapak saya adalah lelaki yang sempurna, menurut saya. Tampan (setidaknya kata saya dan Mama), pekerja keras, serba bisa (mulai pekerjaan rumah tangga, mengatur uang, membetulkan listrik dan genteng, sampai bermain alat musik), penyayang, tidak banyak omong, dan banyak lainnya yang jika saya sebutkan, bisa-bisa pembaca ingin mengambil Bapak saya.

Ah, Bapak. Bahkan saat ini, ketika saya masuk paragraf ini, Bapak sedang berpura-pura duduk-duduk menikmati angin malam di garasi belakang sambil terbatuk-batuk demi menjaga saya yang dengan egois sedang menulis tentang beliau.


Benar,kan, Bapak saya membuat kamu jatuh cinta?


Wednesday, March 5, 2014

PD

Aku terlalu menarik untuk hanya sekedar kau jadikan waktu luang .